Mulai tampaklah dalam heningnya,
renta harap yg kini kupunguti,
terbilang masa datang tak kutahu,
dan nelangsa hukumnya bagi jiwa sepertiku,
sekedar ingin katakan
aku rindu
Putri ...
Apalah arti perasaanku,
yang kutahu tiada sabitkan bibirmu,
atau sirami kering didadamu,
tetap kan salah bila aku bicara,
tak bolehlah benar,
berjalanpun aku masih merangkak,
Putri ...
Tiada perasaan sampai dicelah jiwamu,
aku tau sekejap cinta ada,
maka sekejap kau usir ia,
dan aku mengerti,
kau tak ingin sakit lebih jauh lagi,
manusiawi
Putri ...
Sebingkai wajahmu,
kuendapkan dalam-dalam,
biar suaraku tak mengganggu,
maka kuberharap,
aku bisu,. Tak bisa berkata juga,
bersuarapun kan dicela
bernadapun sumbar ditelinga
tak perlu kupaksa
Mulai tampaklah dalam heningnya,
ikhlas kuratapi pekat diri ini,
akulah jiwa yg belum dijinakkan hari-hari,
dan mungkin dunia berharap,
suara jelataku mati dihakimi
cintaku tak teranggap,
rinduku hanya bunuh semua suka,
bijaksanaku dianggap gila,
Suciku dianggap lirik munafik,
hitamku dianggap mengotori,
sakitku jelas pantaslah untukku,
gempitaku hanya mimpi,
tiada berhak aku berarak cita-cita
tanggung jawab ku dianggap menghina,
kesungguhanku dianggap cela,.
Dan aku takkan pernah sedih,
yang pantas untukku hanyalah nestapa
Karena kusadari aku manusia,
yang belum pantas jadi manusia,
dan takkan pernah ada yg pantas untukku
aku tahu
~ diary Udin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar