Selasa, 24 April 2012
>> Drama 180412
Pagi ... Jadilah indah
Sebagaimana aku percaya,
maka aku akan bisa,
biarlah aku kidung jalanan,
sampah kota ...
Namun yakinku kelak jadi mutiara,
kurangkai tulis di gedung hitamku,
Saat malam meremang,.
Maka pagi kembali dimunafiknya,
diisi hari-hari bertopeng,
dan tau apa dunia,.
Tentang sakitnya hari jujur yg dijalani,
bahkan yg berjiwa gembel pun berpangkat,.
Yang hidup dari meminta dan menjilat,
namun itu bukan aku,
yg punguti recehan dijelataku,
biarlah aku si bejat,.
Namun takkan pernah beranjak
sedikitpun dari yakinku
Pagi ... marahlah ...
Lawan segala terang yg silau,
tiada guna menatap remang hati galau,
Berlari dan mencari,
dari pada diam menunggu pagi lagi,
apa tak malu, bila masih sama saja,.
Berbangsa dianggap rendah.. Hina .. Dan nelangsa
Kerajaanku telah terkubur,
maka kususun naskah,.
Dari sisa puing hancur,.
Dan bukankah dalam setiap drama hebat,
pastilah selalu ada kejatuhan,
namun ksatria haruslah tegap,.
Biar masih berairmata,.
Pagi ... Jadilah indah,.
Genderang perang belum ditabuh,
maka kuatkan dulu segala jirah,.
Raja-raja sial masih berdiri,
Siapkan segala pedang,.
Dan jangan pernah disarungkan,
bila kelak Rajamu datang,
Drama baru dimulai,.
Maka segenap perjalanan dilalui,.
Naskah barulah bab satu,.
Cukup majas sederhana,.
Sebab yg luar biasa adalah kelak nyatanya,
hingga banyak raja gemetar,.
Mimpi buruk disiang hari,.
Dan Bila dunia tak inginkan perang,
namun segala panah telah lepas dari busurnya,.
Mereka kelak berkata
"aduhai ... Kami harus bagaimana "
~ diary Udin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Segila itu
.... Bila itu bukan kamu, Maka aku takkan pernah lagi jatuh cinta,,, Sebab hanya bayang mu yg perlahan menggoda,, Dan aku tak pernah tahu a...
-
Poek euma,. Asa jauh panineungan, tulungan abi, neda pangampura, nyungkeun hapunteun, dina sasar sadidinteun, Meureun sasab sikap nu ...
-
Tentang sebuah nama, Yang mengambang Dalam Biduk malam yang sepi Wajahnya udara Titik-titik jadi satu Terpantul di pintu kayu Kadang ...
-
Saat ini hadir lagi, bayangmu melintas Saat aku hampir saja lelap Mengikatku ke langit-langit Memecah hati dalam sudut dinding Kupejam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar