Selasa, 10 Oktober 2017

1. Cinta di Album Baru

Bagian 9

     Kulihat jam dinding menunjukan pukul 07:30 malam. Aku segera berbenah merias diri supaya tampak menarik walau tetap saja sebegini adanya. Setelah selesai aku bergegas berangkat hendak menemui Ulfa ditempat kerjanya, hingga tak berapa lama aku sudah sampai didepan toko kaset. Kulirik jam di ponselku pukul 08:40, ketika baru saja hendak ku SMS Ulfa namun aku melihatnya keluar dari toko kemudian menghampiriku, dan seperti tak percaya rasanya, tiba-tiba Ulfa memelukku.

     "Aa ..." katanya singkat. Setengah kaget aku membalas erat pelukannya, haduuuhh, sungguh seperti sedang bermimpi. Tapi lama-lama aku risih juga dan perlahan melepaskan pelukannya.

     "Kenapa Ulfa? Bolehkan kupanggil Ulfa? Nggak enak manggil teteh terus," kataku menengadahkan wajahnya sambil setengah bercanda agar tak terlalu tegang. Tetapi semakin aneh rasanya saat kulihat matanya sudah basah. Aku heran kenapa Ulfa menangis sampai tak sanggup bicara, membuatku semakin bingung.

     "Kenapa Ulfa, sudah ... sudah jangan nangis, aku salah ya?" Tanyaku resah tak karuan.

     "Nggak A, aku bahagia sekali, tak pernah kurasakan perasaan seperti ini," jawabnya.

     "Alhamdulillah, berarti mau kan kamu jadi pacarku," tanyaku lagi menegaskan niatku.

     "A, aku suka tapi nggak bisa, nggak mungkin bisa A, " Jawab Ulfa lagi sambil terus saja terisak seperti menahan sesuatu. Aku terdiam mendengar itu, tapi aku yakin dari sorot matanya kalau Ulfa menyukaiku.

     "Kenapa Fa? Kaget ya, Kamu butuh waktu? Ok aku tunggu, aku tak memaksa fa," kataku lagi.

     "Nggak A, Nggak usah tunggu, sampai kapanpun nggak akan bisa A, biarpun aku lebih suka Aa dari Aa sayang aku, aku nggak bisa A ... nggak bisa ..." jawab Ulfa lagi. Aku bingung, mungkinkah Ulfa sudah punya pacar. Bila memang benar seperti itu yang kupikirkan, jelas aku akan mengalah. Aku tak mau menyakiti, aku tahu rasa sakitnya dikhianati.

     "Jadi kenapa nggak bisa, lalu kenapa tadi kamu memelukku? " Tanyaku lagi setengah kesal.

     "Aku meluk Aa karena aku tak pernah merasa disayangi seperti ini, aku meluk Aa karena aku merasa berharga sekali. Tak pernah ada yang memperjuangkanku sampai seperti ini, A ... Maafin Ulfa A," jawab Ulfa kembali menangis.

     "Lalu kenapa Nggak bisa Fa, yang kulakukan untukmu biasa saja, kamu memang pantas kusayangi, kamu memang berharga Fa! " kataku.

     Mendengar ucapanku Ulfa kembali terdiam dan menunduk tanpa bicara, tapi tak lama kemudian, Ulfa menatap mataku dengan lirih;

     "Aa ... Ulfa ... Ulfa ... aku ... aku udah nikah A, " Jawab Ulfa singkat.

     Mendengar jawaban Ulfa rasanya aku tak sanggup bicara lagi, hanya meremas sejenak jemari Ulfa kemudian menatap matanya. Masih terasa hangat genggamannya, aku seperti merasakan kalau sesungguhnya Ulfa tak mau melepaskanku. Dan ... Perasaan apa ini, hmmhhh ... aku menarik nafas panjang. Kutatap Ulfa yang kembali memelukku, tapi aku tak suka pelukan ini, rasanya menyakitkan. Rupanya lagu 'kita' belum juga kutemukan. Dan tak berapa lama, akupun pergi meninggalkan Ulfa yang masih menangis.

                    ***

Tapi kenapa kau memelukku,
Sepertinya hampir kurasa kau mencintaiku,
Darimu aku jatuh cinta,
Darimu aku terluka
Diwaktu yang persis sama

Kutatap diwajahmu kutahu ada perasaan itu,
Namun logika sadarku menggesernya diam-diam,
Sedalam apapun cinta ini
Namun dirimu
Takkan pernah bisa kumiliki,
Hanya anganku ...
Khayal cinta malam tadi

                     ~o0o~

    
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Segila itu

.... Bila itu bukan kamu, Maka aku takkan pernah lagi jatuh cinta,,, Sebab hanya  bayang mu yg perlahan menggoda,, Dan aku tak pernah tahu a...