Selasa, 30 Juni 2026

Rode Roos




RODE ROOS

Agung Saripudin





KATA PENGANTAR

Buku ini adalah kumpulan fragmen perasaan yang disatukan oleh waktu. "Rode Roos" bukan sekadar kumpulan bait, melainkan catatan perjalanan batin tentang jatuh, harapan yang tertunda, dan kerelaan. Setiap puisi di dalamnya ditulis sebagai ruang untuk bernapas, sebuah upaya untuk mengabadi-kan apa yang seharusnya hilang. Semoga pembaca dapat menemukan cermin dari pengalaman mereka sendiri dalam lembar-lembar ini.





PROLOGUE: 



DAGO PAKAR


Adakah kembali masa

Kubawa kau lagi susuri goa

Sisa perang Jepang-Belanda

Genggam tanganmu di tengah Hutan Djuanda 

dan di situ pertama aku tahu, aku jatuh padamu

Biar kini aman tanpa sangkur Marsose

Kubayang seperti ini zaman V.O.C.

Kusayang kau Noni


dan lagi masihkah bisa kubawa

Hangatkan hatimu di air panas Maribaya

Kutahu kau tengah melamun rindu

di kolam panasnya,

dan di kepalamu itu bukan aku, Noni....

Tapi aku diam, aku tahu, aku takkan bicara

Hatiku cukup kujaga, tak perlu kau merasa…

– Ik ben gewoon een verliefde vreemdeling–


Dan di pantai itu, Sengaja kau salah baju

Mungkin tak pantas cantikmu untuk aku... aku tahu.

Malam itu kutahan senapan,

Biar sengaja kau tawan

Demi kau Noni, aku jadi pengkhianat…

Lekat di jidat … sampai nanti … tak peduli



BAB I: JEJAK YANG TERTINGGAL




LABIRIN SUNYI



Kabut tipis merayap turun dari puncak pinus, menyelimuti kawasan Dago Pakar dengan suasana yang dingin namun tenang. Lembang sore itu tampak syahdu, menjadi saksi antara Capunk dan Nefa.


Nefa, seperti "Mawar Merah" karena kepribadiannya yang penuh warna namun tangguh, berdiri di dekat mulut Goa Jepang. Rambut hitam panjangnya sedikit tertiup angin gunung. Saat menatap Nefa, Capunk menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya—sebuah perasaan yang selama ini tersimpan, kini muncul ke permukaan dengan begitu jelas. Ia tahu, di tempat ini, perasaannya bukan lagi sekadar kekaguman biasa.


"Masuk yok, panjang jalan nya– seru banget, katanya tembus ke kota Bandung," ujar Nefa sambil menunjuk ke arah pintu masuk goa yang gelap dan bersejarah.


Capunk mengangguk mantap. "Ayook, tapi gelap anjirrrr." Jawab capunk


Begitu mereka melangkah masuk, cahaya dari luar perlahan memudar, digantikan oleh suasana remang di dalam lorong goa yang dingin. Jalanan di dalam goa tidak rata dan sesekali mereka harus berhati-hati melangkah. Suasana sunyi yang mencekam di luar berubah menjadi ruang yang intim bagi mereka berdua.


Saat melewati bagian lorong yang cukup sempit dan gelap, Capunk mengulurkan tangan kanannya. Jemarinya menyentuh jemari Nefa. Tanpa ragu, Capunk menggenggam tangan itu dengan lembut untuk menuntun jalannya.

Nefa tidak melepaskan genggaman tersebut. Sebaliknya, ia merespons tautan jari itu dengan genggaman yang sama eratnya. Di dalam lorong Goa Jepang yang lembap, kehangatan tangan mereka menjadi satu-satunya pegangan yang paling nyata. Tak perlu ada kata yang terucap, karena genggaman itu sudah menjawab semuanya—bahwa mereka memiliki perasaan yang saling bertaut di bawah sunyinya batuan tua tersebut.

Mereka terus melangkah berdampingan, menelusuri lorong panjang itu dengan hati yang kini saling terikat. Bagi Capunk, ini adalah awal dari segalanya.


Udara dingin sisa kabut di kawasan hutan Juanda seolah menempel di kulit Capunk, namun itu tak seberapa dibanding gejolak yang berkecamuk di dadanya. Setelah keluar dari gua yang gelap dan menyesakkan tadi, jarak di antara mereka terasa begitu tipis sekaligus sangat jauh.


Nefa kini tengah berada di pemandian air panas. Capunk duduk di kursi kayu di luar area, menatap kepulan asap dari segelas kopi yang mulai mendingin di tangannya. Setiap suara percikan air dari balik tembok pemandian membuat jantungnya berdegup tak beraturan.

Tak lama, Nefa muncul. Rambutnya yang sedikit lembab dibiarkan tergerai, wajahnya tampak lebih segar dengan semburat merah alami akibat suhu air. Ia menghampiri Capunk yang kini duduk di sebuah cafe terbuka tak jauh dari sana.

Nefa duduk di hadapan Capunk, lalu menyeruput kopi hitamnya perlahan. Hening tercipta sejenak, hanya ditemani suara gesekan daun pinus yang tertiup angin sore.


"Kamu gelisah banget sejak dari tadi, iih," ujar Nefa memecah sunyi. 


Suaranya rendah, namun tajam menusuk kesadaran Capunk.


Capunk meletakkan gelasnya dengan denting pelan. Ia hanya menatap mata Nefa, mencoba mencari jawaban dalam batinnya sendiri,


“Yu ahh pulang, udah malam, “ jawab capunk mengalihkan suasana


Nefa terdiam, memutar cangkir kopinya. "Kebiasaan kamu mah, selalu takut gelap, kayak anak-anak” ujar nefa.


Mereka pun pulang –


Dinginnya udara malam Lembang menusuk hingga ke balik jaket mereka. Lampu jalan yang remang-remang sesekali menerangi wajah Nefa yang fokus menatap aspal basah, sementara Capunk duduk di jok belakang.


Capunk tidak banyak bicara. Tangannya yang sempat menggenggam ujung jaket Nefa kini perlahan merenggang, membiarkan jemarinya berpegangan pada besi behel di belakang jok. Ia merasa sedikit canggung. Ia selalu merasa kecil setiap kali harus dibonceng, terutama oleh perempuan sekuat Nefa. Ia tahu, dalam benaknya, ia ingin menjadi sosok yang bisa diandalkan, namun realita bahwa ia tidak bisa mengendarai kendaraan membuatnya harus pasrah dalam posisi ini.


Nefa, yang sadar akan ketenangan yang tidak biasa di belakangnya, hanya sesekali melirik melalui spion.


"Dingin pisan nyak?" tanya Nefa sedikit berteriak, suaranya sedikit tertelan angin.


Capunk sedikit tersentak, lalu mengeratkan pegangannya kembali. "Nggak ah,, dikit," jawabnya singkat.


Mereka melewati deretan warung yang sudah mulai tutup dan kelokan-kelokan tajam khas Lembang. Nefa membelokkan motor ke arah jalan menuju rumah Capunk yang agak menanjak. Tak lama, motor mereka berhenti tepat di depan Gerbang hijau yang sedikit berderit saat tersentuh angin malam.

Nefa mematikan mesin. Hening seketika merayap, hanya menyisakan bunyi knalpot yang mendingin. Capunk turun perlahan, lalu melepas helm dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangan.


"Makasih ya, Udah mau repot-repot nganter balik," ucap Capunk sambil menatap ujung sepatunya sendiri, menghindari kontak mata yang terlalu dalam.

Nefa membuka kaca helmnya, menatap Capunk dengan tatapan yang sulit diartikan. "Always atuh, santai aja"


Capunk hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan banyak hal yang tidak terucap di balik bibirnya. Ia memutar kunci gerbang, bersiap untuk masuk ke dunianya sendiri.


Bandung, awal tahun 2000-an. Kabut tipis khas Lembang mulai merayap turun dari perbukitan, menyelimuti halaman rumah keluarga besar Chapunk. Bangunan itu adalah sebuah penginapan megah peninggalan zaman kolonial; temboknya tebal, jendela-jendela besarnya selalu tampak angkuh, dan sebuah gerbang besi berwarna hijau tua menjadi batas tegas antara kediaman keluarga mereka dengan jalanan Lembang yang mulai ramai oleh kendaraan pengangkut sayur.


Chapunk duduk di pinggiran tempat tidur lantai di kamarnya yang tidak terlalu luas. Punggungnya bersandar pada dinding yang tertutup rapat oleh poster band-band Britpop—Liam Gallagher dengan kacamata hitamnya, serta artwork album Definitely Maybe yang warnanya mulai pudar. 


Rambutnya, yang ia bleaching sendiri sampai pirang menyala ala rockstar Inggris, tampak sangat mencolok di tengah kamar yang perabotannya penuh mainan, kaset game Play station, komik dan Nintendo. Jiwa capunk memang berantakan, gayanya seperti musisi British, bajunya asal seperti Nirvana, tapi musik yang disukainya adalah stinky, Sheila on 7 dan band lokal pop melow, dan hobinya adalah membaca komik dan main game retro.


Di atas nakas kayu, tape compo Polytron miliknya sedang memutar kaset bajakan dengan suara yang sedikit kresek-kresek. Alunan musik melankolis mengalun pelan, beradu dengan suara angin yang menderu di luar jendela, memenuhi ruang yang berbau kayu tua dan aroma tanah basah khas dataran tinggi.


Nefa baru saja pulang.

Dia baru saja melewati gerbang hijau besar itu, meninggalkan Chapunk sendirian di rumah sebesar ini. Nefa bukanlah bagian dari dunia musiknya yang berisik; dia tidak pernah mengerti hiruk-pikuk feedback gitar atau chaos di ruang latihan. Bagi Nefa, Chapunk hanyalah cucu dari keluarga besar yang terpandang—seseorang yang kebetulan nyasar dengan rambut pirangnya yang mencolok, dan sifatnya yang cengos dan manja tak dewasa. Nefa adalah jeda dari beban besar keluarganya, seseorang yang datang sekadar untuk duduk di teras samping, menikmati udara dingin Lembang sambil menjauh dari ingar-bingar tamu penginapan.


Tapi sore ini, suasana di kamar itu terasa hampa yang aneh.


Chapunk menatap ke arah gerbang hijau yang tertutup rapat dari kejauhan melalui jendela. Bayangan Nefa masih tertinggal di sana, di antara bayang-bayang pohon pinus yang melambai di halaman rumahnya. Biasanya, setelah Nefa pergi, Chapunk akan segera memetik gitar akustik, mencoba merangkai chord kasar untuk lagu barunya. Tapi kali ini tidak. Jemarinya diam.

Dia sadar ada yang berbeda.


Ada rasa ganjil yang menyelinap saat Nefa tadi tertawa menanggapi guyonan garingnya. Bukan tawa teman biasa yang ia rasakan di dadanya. Ada sesuatu di tatapan Nefa saat dia hendak beranjak pergi tadi—sebuah jeda yang terlalu lama, seolah Nefa ingin mengatakan sesuatu, namun bagi Nefa, itu hanyalah tatapan seorang teman. Nefa tidak tahu, dan memang belum tahu, bahwa Chapunk sedang berjuang menahan diri untuk tidak menarik tangannya agar tetap tinggal.


Ia menunduk, menatap sepatu sneakers kotornya yang tampak sangat berantakan di atas lantai marmer dingin. Bayangan Nefa tadi—cara dia menyibak rambut saat udara dingin Lembang menusuk kulit, cara dia menaruh cangkir teh di meja antik itu—semuanya terasa lebih tajam, lebih berarti. Lagu melankolis di tape compo itu seolah berubah menjadi soundtrack hidupnya yang baru, yang tiba-tiba merasa asing di rumahnya sendiri karena harus menyembunyikan perasaan ini rapat-rapat.


"Sial," gumam Chapunk pelan, suaranya menggema di sudut kamar yang sumpek


Dunia sebagai anak band lokal pengangguran yang tidak terkenal sekaligus cucu dari keluarga terpandang ini tiba-tiba terasa sangat menyesakkan. Dia terjebak dalam dunianya sendiri, sementara Nefa pergi tanpa beban, sama sekali tidak tahu bahwa di balik gerbang hijau itu, ada hati yang sedang berpacu demi dirinya.


Akankah Chapunk tetap menjaga rahasia ini agar pertemanan mereka tidak rusak, atau mungkinkah dia akan menuliskan perasaan terpendamnya itu ke dalam sebuah lagu yang mungkin, suatu hari nanti, akan didengar oleh Nefa?


“”*




KEMARIN



Kereta nya telah pergi ...

Saat peluit berbunyi aku hanya diam

Melihatnya menjauh  menatap dari jendela,

Ia tak memanggilmu dua kali

Hanya sisakan suara dikepala

Yang seumur hidup kau sesali


Tiba dibandara,

Maka nasib mengantarkanku jauh

Tanpa sempat utarakan ingin.

Hanya memelukmu rengkuh,

Serahkan pada takdir yang dingin


Kemarin sempat memelukmu

Tanpa kubaca linang bening dimatamu

Sebenarnya apa yg kau rasa sayang,

Kau tak pernah menjawabnya

Aku merasa kau lukai,

Tapi rupanya sakitmu lebih dalam lagi


disetiap statsiun keretanya tak pernah sama

Dan aku pulang dari pelabuhan yg  berbeda

Rindu bergulir telah memilih rumahnya

Sisakan suara suara dikepala

Kenapa untuk hatimu,

Aku menyerah mengejarnya


***




100 TAHUN LAGI



Sepertinya semua berubah

Tapi mengapa tidak dengan aku,

Hati hanya jadi kacung waktu,

Saat semua rasa jadi dewasa

Aku selayak remaja yg jatuh cinta.

Padamu orang yang sama 


Sungguh tubuh tak mampu mengejar cinta,

Aku ingin rindu ini pergi,

Jauh ... jauhlah saja ....

Mata pun telah kabur melihat,

Namun bayangmu tampak selalu dekat,,

Seperti ditanamkan mutiara disenyummu,

Dan suara yang selalu kuingat hanya nada bicaramu

Merdu.. walau tak sedang nyanyikan lagu


Dan lihatlah semua berubah

Lalu kenapa aku tidak,

Seperti hari-hari tak lagi mau bijak

Syair hati selalu jatuh padamu,

Kadang tak tahan dengan segala perasaan,

Dan dengan apa ingin ini aku lawan

Jalan hasrat selalu beradu di persimpangan

Hanya hadir di mimpi ... sakiti diri sendiri

Lagi ... lagi ... dan begitu lagi


Semua sudah berubah .... digerus waktu

Tapi mengapa tidak cintaku,

Tolong tuakan juga hatiku, biar perlahan mati

Biar hasrat sekarat, tak lagi mengharap nikmat


Dan seratus tahun lagi aku akan bertanya pada Tuhan,

Adakah bidadari yang sama dengannya,,

Biar aku utuh mencintainya ... utuh memeluknya,, utuh memilikinya ..


Kutanya ....

Adakah yang setabah aku mencintainya?


***


SEGILA ITU



Bila itu bukan kamu

Maka aku takkan pernah lagi jatuh cinta

Sebab hanya bayangmu yang perlahan menggoda

Dan aku tak pernah tahu alamat rindu

Kecuali pulang ke rumahmu


Berapa kali kau hadir dalam sepi

Kau bilang mungkin aku hanya kesepian

Tidak, sayang... 

Dalam bahagia dan ramaiku pun

Kau datang... 

Segila itu aku


Bila itu bukan kamu

Maka tak ada ingin yang kukejar lagi

Tapi pada kaulah segala mimpi

Dan bila tak ada kamu,

Mungkin tak ada puisi sebanyak ini

Kau kira aku hanya bosan…

Tidak, sayang…

Dalam ceriaku pun kau selalu kudoakan


Sebab cintaku ikhlas, cintaku bebas

Cintaku bukan aku yang mau, cintaku selalu ingin kamu jadi kamu

Walau cintamu tak pernah memilihku

Segila itu aku…


***



JANJI



Bila kubilang aku mencintaimu, percayakah kau?

Tanya saja pada ombak yang senang bermain dengan batu karang

Tapi pada pantai dia akan kembali


Bila kubilang padamu aku rindu, percayakah kau?

Tanyakan pada matahari yang rindu pada malam

Tapi pada pagi, dia pasti akan pulang


Bila kubilang aku sayang, percayakah kau?

Seperti pungguk yang merindukan bulan tapi takkan pernah sampai


Seberapa berat apa pun rindunya…

Namun sampainya hanya pada samar pelita

Bukan pada purnama... 

Yang selalu datang dengan singkatnya


Percayakah kau?


***




KABAR



Adakah bisa kuminta…

Waktu kembali biar hanya sebentar saja.

Maka tak lagi dengan puisiku bersedih,

menahan kenang yang masih saja perih.


Saat hampir kulupa…

Lalu dalam mimpi, bagaimana cara kau memasukinya?

Hingga terbit pagi, aku kembali rindu…

Tenangnya hati saat masih bersamamu


Biar hanya sebentar…

Kuharap kau tanya aku sekadar kabar.

Tapi nyatanya, aku hanya bisa menunggu.

Menyapamu, takut mengganggu.


Lalu dalam mimpi... bagaimana cara kau masuki?

Apa sama kau bermimpi?

Aku ingin tahu…

Dan nyatanya, hanya sanggup menanti.

Menyapamu, tak siap lagi sakit hati.


***



SAMA-SAMA



Bahkan sebelum mengenalmu, aku sering memimpikanmu.

Wanita asing yang akan selalu mencintaiku,

Sebab terasa tiap kau peluk saat ku pamit,

Binar matamu berkata, "Pulanglah padaku saja."


Setiap tumbuh singgah, taman pun memutih

Diiringi syair mencari kata paling sedih.

Sebab kau merah di tengah mawar putih

Yang selalu kujauhkan dengan hati perih.

Rupanya menjauh tak bisa melepaskanmu,

Malah makin erat mengikatku.


Bahkan sebelum mengenalmu, aku tahu akan mencintaimu.

Wanita asing yang sesungguhnya memilikiku,

Cincin pertama di jarimu itu yang kupilih.

Semesta tahu siapa pemiliknya…

Dan cinta pasti menemukan jalannya.


Jam berdering... Malam-malam berlalu,

Dan ke kota ini lagi, aku pulang mencarimu.

Bilakah mawar merah dan putih mekar bersama?

Sekuat hati aku akan menjaganya…

Biar tangan kiri kanan penuh luka,

Menggenggam duri kalian yang tak ada habisnya


***



INGIN



Katakan padaku satu kali saja,

Kau rindu melihatku bercanda,

Hingga tawamu lepas dengan gelak nya.

Lalu diam di tengah itu menatapmu,

Mata mungilmu lucu,

Akankah tatap itu mencintaiku?


Katakan padaku satu kali saja,

Kau ingin mendengarku bercerita

Tentang hari-hari yang kulewati.

Cukup tanya, "Sudahkah sarapan pagi ini?"


Dan suaramu bening ... Buatku diam terjeda.

Benarkah suara itu tentang cinta

Yang menggema begitu dalamnya?


Tapi pagi ini dingin …

Tak ada temu, bahkan sekadar kabarmu.

Dan di pikir, berisik bertanya:

Apakah rasa kita sama?

Kau seperti aku,

Yang tengah jatuh cinta.


***


AKU JUGA INGIN



Selalu saja ada yang menyelinap dalam sepi tidurku

dan itu bayang wajahmu …

Yang diam-diam kutuliskan dalam bahasa

Tentang rindu dan cinta

Yang tak kutahu kapan habisnya


Sebetulnya nalar tahu kapan harus berhenti

Tapi hati selalu meminta tambah

Merindukanmu satu hari lagi

Di pikiran muncul ribuan kata-kata

Seakan aku tak bisa tidur

Bila aku tidak menuliskannya


Sayang ... 

Bagaimana rasanya dicintai seberat ini?

Sebab aku pun ingin merasa kau cintai

Tak perlu kau kirimkan puisi

Cukup katakan saja kau rindu padaku

Sungguh dunia jadi hebat, dan aku jadi lelakimu yang terkuat


Sayang ... 

Saat besok mentari tiba

apakah rasa ini masih ada?

Karena berat menanggung penat rindu

Mengharap akan ada satu waktu

di mana kau katakan padaku, "Aku juga mencintaimu.”


***




SAAT KAU MENATAPKU



Aku bayangkan saat bersama,

aku hanya akan memikirkanmu.

Berharap waktu berhenti saat itu,

di saat kau tersenyum menatapku


Aku bayangkan kita susuri jalan, 

menuju tempat yang tak pernah kita tahu.

Yang tak pernah kita kunjungi, 

penuh rasa takut dan gembira.

Tak akan bosan,

Penuh petualangan yang menanti.


Aku bayangkan

kita tengah melihat fajar

Penuh dengan warna-warna terang benderang

Bersama burung bersahut-sahutan bernyanyi

Bersama menanti pagi


Aku bayangkan kita tengah melanggar segala aturan

Melakukan apa saja yang kita suka

Menjelajahi tiap pulau di dunia

Tuk tinggalkan jejak kita


Aku membayangkan di musim yang dingin

Aku erat memelukmu

pandangi gerimis dari jendela

Sembari sesekali berbincang tentang kita

Melupakan segala duka


Aku bayangkan Kisah kita yang tak ada awal

dan juga tak ada akhir

Berputar terus seperti jam waktu

Seperti alam semesta


Oh... aku membayangkan

Bertanya apa yang tengah kau bayangkan?

Ketika kau menatapku


***



TERLALU MENGHARAPMU



Aku berharap aku adalah burung.

Setiap pagi, aku terbang ke tempatmu

dan duduk di jendela, untuk menjadi yang pertama menatapmu.


Aku berharap aku adalah embun

Ketika kau memilih mawar dan menghirup wanginya,

aku akan diam-diam mengecupmu

dan menghirup wangi dari napasmu


Aku berharap aku adalah matahari terbit

agar setiap hari selalu melihatmu dan menghangatkanmu.

Lantunkan doa agar kau selalu bahagia

Semoga Allah merahmatimu

Selalu menjagamu di jalan-Nya


Ooh... Jika saja aku

Aku berharap aku menjadi aku saja

Yang setiap pagi menyanyikan lagu-lagu cinta

Cukup hanya kau yang mendengarnya.


***






NINEUNG



Neng... Aa téh nyaah ka anjeun

Tapi kumaha nyarita ti mimiti

Unggal peuting kasono téh hayang miceun

Beurat, Neng... Nyadar ngimpi beuki nyeuri


Unggal karérét anjeun seuri

Aduh Neng... Teu kiat asa kasabet sagara cinta

Kudu kumaha atuh Aa,

Nyarita teu bisa, Ngadoa gé éra

Sabab nyadar teu walakaya


Neng... Geulis Neng kanggo saha?

Bageur Neng kanggo saha?

Soleh Neng kanggo saha?

Bagja meureun picarogeun,

metik kembang mamanisna.


Neng... Punten mun Aa bogoh

keun baé cukup Aa nu ngarasa.

Rék ka Subuh haté beuki teu puguh

Ukur nineung, Ngadoa nyungkeun ka Gusti,

mugi-mugi rarasaan urang sami.


*””


JATUH



Katakan padaku,

kenapa mesti kusimpan perasaan?

Sebab aku suka bila jatuh cinta

Biar kututup mata, tapi tampak tulisan.

Seperti ruah terjatuh menimbunku,

dengan sejuta syair cintanya


Sudah ditanam mutiara di matanya

dan sampai kapan bisa ku tahan,

Batin ingin mencurinya?

Setiap bertemu seperti sedikit tercuri hidupku.

Lama-lama kau habiskan

bukankah gunung pun pasir yang terkumpul,

debu yang banyak


Ooh, seperti kau pencuri kata-kata

Sebab bayangmu tadi melintas

Hingga tulis apa lagi, aku jadi lupa

Sampai kapan di depanmu aku tampak biasa

dan detik berhenti bila kauajak bicara


Oh Tuhan... aku tak biasa.

Gadis cantik kidung jingga,

adakah aku dalam bodohnya?

Ada hati yang tak ingin pacaran,

apa kau juga merasakan?

Gadis manis jilbab biru,

malam ini kurung aku di kelambu.

Sebab tak pernah lagi aku nyenyak,

lalu kapan?

Perasaan ini begitu banyak.


Oh, Tuhan … aku jatuh cinta


***



KAMU



Iya, kamu... 

Tapi pura-pura tak kudengar.

Biar bisu,

Seperti hinggap kupu-kupu.


Dan adakah ini sempat kau baca?

Lalu, apa yang kau rasa.

Yang duduk di peraduan?

Apa sekadar singgah masuk rumah,

Bertamu, dan berlalu

Selayak hinggap kupu-kupu


Iya, kamu…

Adakah Tuhan mengarahkannya?

Hingga kau tahu aku ada.

Atau terserak seperti surat cinta sebelumnya.

Yang lama kutulis tapi tak pernah kau baca.


Iya, kamu... 

Yang kurindu dalam bisu

Sehening cinta di dada

Tapi bibir ini 

tak sanggup mengatakannya.


Iya, kamu... 

Bicaralah... Tatap aku,

Bila syair kau baca dan hadirku kau rasa,

Ataukah kau tak peduli aku ada?

Sebab bibir ini tak bisa berkata.

Berakhir seperti surat cinta sebelumnya,

Yang tak pernah engkau baca


Iya, kamu…


***


KAMU JUGA KAMU



Perasaanku... 

tak lagi ragu, tapi iya aku jatuh cinta

Bukan lagi entah yang ada di dada ini

Tapi wajahmu lekat di jidat

dari malam hingga pagi

Hingga dilema

dan bunyi di kuping memekak,

Tak lama kumasuki dosa-dosa


Perasaanku…

apakah hadir puisi lagi

Syair yang hilang melantur satu-satu

Hingga di buku kosong tampak catatan

dan kututup mata, masih saja tampak tulisan

Bait cinta tentangmu


Perasaanku…

benarkah cinta tak mungkin lagi

Sementara kucuri senyum saat kau tidur

Kau dekat walau bukan di sampingku

Kau di sini walau bukan untuk aku


Perasaanku…

Itu kamu, Jelas kurasakan tapi tak bisa kukatakan, 

tak bisa kuberikan, tak bisa kuhentikan


Ah... Perasaanku

Iya untuk kamu... juga kamu.


***




SENAR



Sepintas tadi kau ada

Dan bersalahkah bila hati jatuh cinta?

Seperti saat dulu, seperti saat merah, seperti saat biru.

Bersemangat kumainkan nada-nada

Padahal tak kutahu warna-warna, apalagi irama.


Dan apakah kau suka

Andai kau tahu perasaan ini,

yang tiap malam bersembunyi kuselipkan dalam mimpi?

Berbisik kusebutkan namamu

dan ragu– malu kuberdoa

Malu kuamini... Tak bisa... bisakah ini jadi.


Dan sukakah kau, bila kau dengar ku bernyanyi?

Separuhnya ada untukmu, separuhnya tentangmu,

Biar hambar kunyanyikan lagu-lagu

Tapi di situ perasaanku


Dan bisakah kau,

kutitip dulu gitar yang kusayang?

Ada banyak lagu kucipta, walau dunia tak mendengarnya.

Biar sebentar kau petik senar gitarku

Bernyanyilah dengan nada cinta paling baik

dan nada tentangku takkan pernah ada

Aku hanya pena, aku hanya irama, hanya senarnya.


***




PADAMU



Sesungguhnya tak ingin bertanya.

Tapi riuh rindu begitu berisik di telinga.

Kutahu mustahil dengan adaku.

Kutahu rasaku hanya salah adanya.

Tapi cukupkah dengan sadar itu hilang?

Seperti kalimat yang salah tempat

Ingin bicara, langsung jauh Engkau pergi.


Padamu aku suka

Biar kutulis sedikit baris, semoga hilang panas rasa dalam dada

Tentang hati ini yang jatuh cinta

Tapi mulut ini terlalu takut berkata

Sebab ku tahu salah, maka jauh hari ku mengalah.

Biar hanya sepi yang tahu perihnya tiap malam merindu.


Padamu aku suka, dan kau tak tahu.

Biar kubalik lidahku, kuguyur perasaanku

Semoga semakin hari makin menjauhkanmu,

agar tak semakin dalam melukaiku


Tak kupanjang kalimat

Padamu aku suka, Padamu aku cinta.

Padamu sia-sia…


***


AMPAS



Mih... apa kau dengar aku

Yang detik ini tengah mengenang bekas

Sisa kisi senyummu tadi yang bagimu biasa

Namun di hati adakah kan terhapus?

Bisa mungkin nanti, tapi bukan malam ini

Manis itu kan teringat, setidaknya satu minggu saja

Itu pun tak terlupa separuhnya

dan biasanya sisa itu yang menyiksa


Mih... malu aku katakan cinta

Tapi ampas kopi tak berbohong

Sumbang lagu, tak mungkin berkelit dari nadanya

Irama tentang cinta sepertinya jadi juara

Biar norak, biar kampungan– sumpah, Mih

Andai tak malu biar ku gabruk, kupeluk se eratnya.


Mih... andai kau tahu,

aku senyum sendiri, nangis sendiri, bicara sendiri

Tapi di depanmu seperti orang mati

aku jatuh, Mih, dan pastinya sakit

Sebab rasa begitu jauhnya

Karena Kupikir kau tak suka

Atau mungkinkah kau sangat suka,

Kupikir kau tak rindu,

Atau sangat rindu,

Ah, aku tak tahu…


Mih... aku jatuh, dan tahu pasti akan sakit.

Maka biar tak kubilang

mungkin nanti pun hilang.

Tapi bukan hari ini, Mungkin seminggu lagi

Itupun tak hilang semua

Ah... sama saja


***


BAIK-BAIK SAJA



Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.

Seperti bulan, aku akan cepat melupakan segala hal.

Perlahan pudar dan tersisa bayang yang berlalu

Kan kujaga mimpiku di ribuan malam,

berjalan terus maju ke depan

biarpun tak akan pernah kembali.


Walau masih ingin ku dengar suaramu

karena kadang aku takut tak ada yang mengarahkanku.

Gelap saat purnama tak ada

Biar kututup mataku, lurus berjalan saja.


Jangan khawatir, aku sudah menyiapkannya

Takkan kutoleh lagi bekas tapak yang kutinggalkan.

Seperti air yang kan terus mengalir ke lautan

Kutegaskan lagi mimpiku

aku akan baik-baik saja.

Kubawa jauh perasaan ini dalam hati,

biarpun aku takkan permah kembali.


***









BAB II: RODA YANG BERPUTAR



CEMARA 



Suasana di ruangan bar Penginapan itu terasa menyesakkan, bukan karena dentuman musik yang memekakkan telinga, melainkan oleh kesunyian yang berat dan aroma tembakau murah yang berpadu dengan bau apek dinding tua. Ini bukan diskotik; ini adalah sisa-sisa kemewahan yang membusuk. Lampu-lampu gantung kristal yang dulu menjadi kebanggaan penginapan ini kini hanya menyisakan bohlam kuning redup yang menggantung rendah, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan mencekam di setiap sudut ruangan.


Chapunk duduk di balik meja bar kayu yang permukaannya sudah kasar dimakan usia. Di depannya, Sammy dan Daniel tampak kacau. Mereka tidak sedang berpesta, mereka hanya sedang membuang waktu. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja yang bernoda. Wajah Sammy basah oleh keringat dingin, sementara Daniel menatap kosong ke arah deretan pintu kamar di lorong gelap penginapan, tempat para tamu yang datang membawa rahasia kotor mereka.


"Kau tahu, Cha..." Sammy bicara dengan suara rendah, hampir seperti bisikan yang terseret napas alkohol. "Dulu kita punya panggung. Kita punya sorot lampu yang jujur. Sekarang? Lihat tempat ini. Tempat ini menjadi saksi bisu bagi mereka yang datang membawa dosa dan pergi sebelum matahari terbit."


Daniel tertawa sumbang, kepalanya terkulai di atas meja. "Cinta itu seperti lagu-lagu kita dulu, Sammy. Indah di atas kertas, tapi hambar saat dimainkan. Wanita-wanita yang datang ke sini... mereka bukan mencari cinta. Mereka mencari tempat untuk bersembunyi dari diri mereka sendiri, sama seperti kita."


Daniel mendongak, matanya yang merah menatap Chapunk dengan tajam. "Bagaimana denganmu, Chapunk? Apa kau masih memikirkan Nefa? Apa kau masih menunggu keajaiban datang menjemputmu di tengah bangkrutnya keluarga kita ini? Atau kau sudah cukup waras untuk sadar bahwa cinta itu cuma candu yang membuat kita makin hancur?"


Chapunk tidak bereaksi. Ia bahkan tidak memandang kedua sepupunya itu. Tangannya perlahan membersihkan permukaan meja dari tumpahan cairan dengan kain kusam, gerakannya mekanis dan dingin. Di sekitar mereka, beberapa bayangan orang tampak melintas di lorong, samar-samar terdengar suara pintu kamar yang tertutup—suara kehidupan yang sunyi dan memalukan.


"Cinta atau wanita, itu tidak ada hubungannya dengan kondisi atap yang bocor atau tagihan yang menumpuk di meja bapak," jawab Chapunk datar, suaranya dingin seperti batu. "Kalian bicara soal perasaan di tempat yang bahkan tidak punya kehormatan lagi. Itu sia-sia."


Sammy menumpahkan sisa isi botolnya ke gelas, tangannya bergetar. "Kau dingin sekali, Cha. Padahal dulu, kau yang paling berisik soal idealisme."


"Idealisme mati saat perut lapar, Sammy," sahut Chapunk singkat.


Ia memutar tubuhnya, meninggalkan kedua sepupunya yang masih terjebak dalam racauan mabuk mereka sendiri. Chapunk berjalan menuju kegelapan koridor, membiarkan Sammy dan Daniel larut, sementara ia harus memikirkan bagaimana cara agar bangunan angker ini tidak sepenuhnya menelan mereka bertiga ke dalam kehancuran total.



KAMAR YANG REDUP 


Waktu pun berlalu. Musim berganti, membawa debu kenangan yang perlahan mengendap di sela-sela ingatan. Di sebuah sudut kota yang kini terasa asing, Chapunk memilih menjadi pendiam.


Cahaya lampu meja yang temaram menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar itu, menciptakan bayangan panjang di dinding yang penuh poster musik. Di sudut kasur yang sedikit berantakan, Chapunk memetik senar gitarnya dengan lembut, menciptakan melodi minor yang mencerminkan isi kepalanya. Dunia di luar sana sedang meruntuhkan keluarganya, namun di dalam kamar ini, dunianya berhenti pada gesekan jari-jarinya di atas fret gitar.


Nefa duduk di tepi tempat tidur, memperhatikannya dengan tatapan tenang yang selalu berhasil menenangkan badai di dada Chapunk. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum.

"Kamu tidak perlu ikut berisik dengan 

Orang-orang di luar sana, Cha, kamu mah orang baik," ucap Nefa pelan, memecah kesunyian yang sempat menggantung. "Terkadang, diam adalah cara terbaik untuk tetap waras saat segalanya terasa hancur."


Chapunk menghentikan petikannya, menatap Nefa. Ia teringat bagaimana saudara-saudara nya sering menghabiskan malam dengan botol-botol minuman dan kebisingan yang tak berarti—sebuah pelarian yang baginya justru terasa seperti jebakan. Namun di sini, bersama Nefa, ia menemukan tempat pelarian yang berbeda. Sebuah ruang di mana ia tidak perlu menjadi siapa-siapa, cukup menjadi dirinya sendiri yang sedang terluka namun tetap ingin bertahan.


"Makasih nyak udah jauh-jauh mau kesini," ujar Chapunk lirih. "Cuma kamu yang tahu aku."

Nefa hanya mengangguk, lalu mengambil sebuah buku catatan yang tergeletak di sampingnya. Kemudian menghabiskan es krim murah yang chapunk belikan di warung depan rumah.



KOPI JAGUNG BAKAR



Malam itu, dingin Lembang menusuk hingga ke tulang, namun bagi Chapunk, kehangatan yang paling ia cari bukanlah dari jaket tebal yang ia kenakan, melainkan dari deru motor yang berhenti tepat di depan pagar rumahnya.

Itu Nefa. Satu-satunya orang yang memiliki "kunci" untuk menarik Chapunk keluar dari dunianya yang sunyi. Tanpa banyak bicara, Chapunk naik ke jok belakang. Seperti biasa, ia lebih suka membiarkan Nefa memimpin jalan, membelah kabut tipis yang menyelimuti rute menuju Cikole.


Sepanjang perjalanan, hanya terdengar deru mesin dan gesekan ban di aspal yang lembab. Sesampainya di area Cikole yang rimbun oleh pohon pinus, Nefa menepikan motornya di depan sebuah warung kopi kayu yang remang-remang. Aroma kopi tubruk dan jagung bakar langsung menyambut mereka.


Mereka duduk di kursi panjang kayu, menghadap ke arah jalanan yang sepi. Setelah memesan dua cangkir kopi, Nefa yang biasanya ceria, malam itu tampak berbeda. Ia menatap asap kopinya cukup lama sebelum akhirnya angkat bicara.


"Cha," panggilnya lirih, memecah hening malam.

Chapunk menoleh, memperhatikan guratan lelah di wajah Nefa yang tertimpa cahaya lampu bohlam kuning.


"Jujur, hari-hari ini berat banget buat aku," lanjut Nefa. Ia menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah kegelapan hutan pinus di depan mereka. "Rasanya aku kayak lagi terpuruk, kayak kehilangan arah. Banyak hal yang terjadi, dan aku ngerasa hampir nyerah sama semuanya."


Nefa menunduk, memainkan gelas kopinya. "Makasih ya, udah mau diajak keluar malam-malam begini. Makasih udah mau nemenin aku, walau aku tahu kamu lebih nyaman di dalam rumahmu sendiri... setidaknya bikin aku ngerasa kalau aku nggak sendirian."


Chapunk terdiam sejenak. Ia bukan orang yang pandai merangkai kata-kata manis, namun ia mengerti rasa sakit itu. Ia menatap Nefa dengan tatapan yang tenang, menunjukkan bahwa meskipun ia lebih banyak diam, ia adalah pendengar yang paling setia.


"Fa," jawab Chapunk akhirnya, suaranya pelan tapi mantap. "Kamu nggak perlu minta maaf karena udah jemput aku. Justru, mungkin aku yang butuh kamu untuk diingatkan kalau dunia di luar sana itu masih ada, meski sedang dingin-dinginnya."


Di warung kopi sederhana di pinggir jalan Cikole itu, di bawah kerlip bintang yang tertutup kabut, keduanya terdiam. Tidak ada lagi keluh kesah yang perlu diucapkan. Hanya kehadiran satu sama lain yang menjadi jawaban, membuktikan bahwa kadang-kadang, untuk merasa sedikit lebih baik, kita hanya butuh satu orang yang benar-benar mengerti tanpa harus banyak bertanya.


Kabut Cikole semakin pekat saat mereka kembali ke penginapan milik keluarga Chapunk. Hening malam hanya dipecah oleh suara langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai kayu koridor penginapan.


Sesampainya di depan kamar, Nefa tampak benar-benar kelelahan. Wajahnya yang pucat karena beban pikiran kini tertutup kantuk yang amat berat. Tanpa banyak bicara, Nefa masuk ke kamar yang telah disiapkan Chapunk untuknya, merebahkan diri di atas ranjang dengan napas yang mulai teratur.


Chapunk berdiri di ambang pintu. Ruangan itu hangat, kontras dengan udara dingin di luar. Di sana, di bawah remang lampu tidur, Nefa tampak begitu rapuh sekaligus mempesona—seperti Rode Roos, mawar merah yang selalu ia jaga dalam diam.


Hasrat itu ada. Itu manusiawi, apalagi bagi seorang laki-laki yang menyimpan perasaan begitu dalam. Ada bisikan di kepalanya yang menggoda untuk sekadar duduk di sisi ranjang, untuk tetap di sana, untuk membiarkan malam ini menjadi alasan agar mereka semakin dekat secara fisik. Namun, segera setelah pikiran itu muncul, suara hati yang lain menahannya.

Tulus, batinnya. Cinta itu tentang menjaga, bukan menuntut.


Chapunk tahu betul bahwa Nefa sedang berada di titik terendah jiwanya. Ia tidak ingin menjadi bagian dari alasan Nefa merasa tidak aman di kemudian hari. Ia menghormati Nefa lebih dari sekadar egonya sendiri. Ia ingin menjadi tempat Nefa pulang saat ia merasa terpuruk, bukan menjadi orang yang mengambil kesempatan di tengah kerapuhan itu.


Dengan langkah perlahan, ia mendekati ranjang. Ia melihat helai rambut Nefa yang sedikit berantakan menutupi keningnya. Dengan sangat hati-hati, seolah takut mengganggu.

Ia berhenti sejenak, menatap wajah Nefa yang tampak lelah. Perlahan, ia menunduk, dan mengecup keningnya. Sebuah kecupan yang lebih merupakan janji perlindungan daripada sekadar tanda cinta.


"Tidur ya,, bobo yang nyenyak," bisiknya  pelan, hampir tak terdengar. 


Tanpa menoleh lagi, Chapunk membalikkan tubuhnya. Ia menutup pintu kamar dengan sangat lembut, lalu melangkah pergi menuju kamarnya sendiri di tengah penginapan. 


Di dalam sunyinya malam, ia membiarkan dirinya menahan gejolak perasaan itu, memilih untuk memeluk kehormatan cintanya sendiri daripada harus memetik mawar itu sebelum waktunya.








TUMPAH



Di wajahnya bulir permata, riakkan dungu ganggu tidurku serupa hantu

Hingga rasa nalar tak lagi sejajar

Beginikah menjelang gila? 

Racau dada tak tahu apa


Ada purnama di matanya, hingga seakan cerah gelapnya dada

Ataukah sungguh aku jatuh cinta?

Bidadari nanti pun tak menarik lagi,

aku ingin mencarinya malam ini


Tapi dia mengerut bisu, duduk manis di balik kelambu

Ambil... ambilah saja... sejumput mimpi…

Iya... dia mimpi…

Tergenang di sisa ampas kopi yang kini pula tumpah

Aku baru sadar…


Di nafasnya melodi... serupa seruling senja…

Kudengar tanpa lagu

Jangan-jangan ini pula rindu

Oh Puan... jangan siksa aku


***


BOHONG 



Aku suka... Iya, aku menyukaimu.

Tak kubilang cinta sebab tak kutahu apa itu;

drama Koreakah, atau sekadar terbawa lagu?

Tapi gemetar bila kutatap mata,dan tak bisa lama bila menyapa berjumpa.

Ada yang aneh di perasaan... Apa kau juga merasakan?

Kumenjauh padahal hati ingin dekat.

Ingin lama bicara, tapi gagap…

Ah, padahal ingin dekat... Ingin sekali dekat.


Tak ada jadi arti puisi,

ribu majas syair jadi basi.

Berharap datang jadi pergi,

seperti semua gila... Padahal aku yang jadi gila.


Aku cinta ... Benarkah aku mencintaimu?

Sebab aku takut mengisi hati lagi.

Sebab mencintai itu lelah.

Mencintai itu capek ... Mencintai itu sakit.

Mencintai itu bohong ... Mencintai itu kosong.


Aku sayang ... Iya, cukup kuingin kau datang.

Kupeluk kau sekarang, 

bukan utuh bercumbu dengan bayang-bayang.


***



MAIN API



Mendung pun tahu betapa dekatnya kita,

seperti mata pada kelopaknya.

Ia kucurkan hujan biar makin romantis,

bukannya basah, tapi makin gelisah.

Apalagi saat mereda sedikit gerimis,

dan senyummu malu... Takut aku tak mau.

Oh... Jauhnya khayalanku.


Sebab senja ini aku tak ingin sedih,

hingga nalar binal, seperti kembali ke dahulu.

Tak ada abu-abu...Sebab jelas dalam hitamku…


Di biduk kecilku berlayar pelan

Ingin hati sedikit reda perlahan

Sebentar saja merdeka dalam kelam

Kucuri sedikit mentari dan kusimpan dalam hati

Maka biar ia terbenam... Biarlah pergi

Aku yang terbakar di sini


Dan adakah yang mau bermain api?

Ayo, mendekatlah kemari


***




TAK REDA HUJAN


Aku tak punya apa-apa,

hanya tahu mengejarmu dengan bodohnya.

Berharap restu keajaiban,

padahal dada ini sadar, kau tak pernah terkejar.


Aku tak punya apa-apa.

Tapi takdir telah ditulis, lalu aku bisa apa?

Apa harus diam menahan siksa rindu yang begitu kejamnya?

Rasa yang tak izinkan hidupku tenang,

kutumpahkan jadi puisi …

Adakah terus begini sampai aku mati?


Andai aku tahu laut itu dalam,aku tak akan menyeberanginya.

Andai aku tahu cinta itu begitu sakitnya,

aku takkan memulainya …

Tapi terlambat untukku,

terlanjur jauh tenggelam mencintaimu.


Aku tak punya apa-apa,tapi mengejarmu dengan bodohnya.

Entah sampai kapan,

tapi aku percaya masih ada keajaiban,

seperti pelangi yang menunggu reda hujan.


***


ITU SAJA



Tidurlah, sayang …

Sakit tubuh dan batinmu cepatlah buang

Kan ku bubuhi tidurmu dengan doa-doa indah

Hingga Tuhan kuatkan mu tak lagi lemah

Aku percaya ada alasannya kau ada di hidupku

Walau Tuhan belum bisakan aku di sisimu


Tidurlah, sayang …

Semoga hatimu izinkan nanti aku pulang

Aku tak punya alasan kenapa aku mencintaimu

Yang kutahu demi kamu aku jadi tidak takut

Demi kamu aku jadi bisa,

Demi kau bisa kutahan hasrat dan dahaga

Demi kau bisa kutinggalkan apa saja

Sebab aku ingin mencintaimu dengan terhormat

Bukan karena hanya ingin cicipi nikmat

Menjadi lelakimu, suamimu, kekasihmu

Aku tak peduli apa namanya …

Yang kutahu aku ingin bersamamu selamanya ... Itu saja.


Tidurlah, sayang ... 

Jangan terbebani dengan rasaku

Sebab aku tahu kau tak pernah mencintaiku

Maka biarlah begitu ... asal kau bahagia

Tapi jangan sakit ... tapi jangan lemah.

Tapi jangan susah ... tapi jangan marah.

Dan bila pahit itu ada, maka bagilah padaku ... aku rela.


Maaf ... aku tak punya apa-apa.

Sekadar untuk menjaga,

hingga yang baik datang padamu,membawamu di indah cita-citamu.

Maka tak perlu kau usir lagi,

aku akan pergi ... bila itu kau ingin.

Percayalah, kau tak pernah sakit sendiri.

Biar kutemani …


Tidurlah, Sayang …

Besok pagi segarlah berdiri.

Tebarkan senyummu lagi,

yang tercantik ... yang terbaik.

Beri pada dia yang kau cintai,

dan bila layu, ingatlah aku …

Yang selalu mencintaimu.


***


MALAM TADI



Bila tanpamu, rasanya takkan ada lagi rindu.

Walau kadang tersadar, 

sesungguhnya apa yang ... kukejar?

Tapi tak usah takut, Sayang…

Sebab rasaku tak memaksa

Sebongkah tenang yang kadang pergi, kadang datang

Dan aku selalu siap... Jadi dia yang terbuang


Mencintaimu seperti menulis diary 

Kadang penuh senyum kucatat

Kadang perih meringis kutulis

Kata dalam dada seperti tak ada habisnya

Bila tentangmu, selalu saja ada


Aku tak menyukaimu dengan mata,

Sebab mata hanya suka yang indah-indah saja

Dan seandainya waktu membuatmu menua dan layu,

Aku tetap mencintaimu

Aku tak menyukaimu karena hati,

Sebab rasa pasti akan berhenti

Kadang enak, kadang tidak

Perasaan berubah seperti inginnya

Tapi saat marah, aku masih mencintaimu

Apalagi saat aku bahagia

Kupastikan kau harus merasakannya


Aku menyukaimu... 

karena kamu itu kamu.

Sepenuh jiwa, tak peduli kau siapa.

Bukankah cinta tak pernah menuntut sempurna?

Maka kucintai kau apa adanya…


Ah, Sayang.... 

Hidup ini singkat.

Percayalah, aku bangga mencintaimu,

Sampai Tuhan mengambilnya lagi,

dan tak lagi ada puisi…


Aku tahu syair tak mengenyangkanmu,

tapi semoga jadi peneduh saat kau mengeluh.

Dan aku tak berharap dibalas,

saat ada dia yang memberimu ketenangan dan puas.

Pergilah... aku ikhlas…

Mungkin nasib cinta denganmu hanya di mimpi,

seperti indahnya malam tadi.


***




AKU BERUSAHA 



Yakinkan hatimu, aku milikmu.

Takkan pernah ku menjauh dari segala lebihmu,

Takkan pernah ku pergi dari semua gelisahmu.

Walau kusadari tak mudah …

Tapi kuyakin Semesta kan temukan caranya,

dan aku percaya.


Kaulah mutiara yang kuselipkan di tengah doa-doa

dan kutahu Tuhan pasti mendengarnya

Tentang namamu yang selalu kusebut

agar dunia dan isinya selalu menjagamu

Ke mana pun arah kau melangkah…

Hingga nanti kau pulang


Jangan lelah, Sayang…

Kapan pun kau mau, aku akan datang

Yakinlah aku rumahmu…

Yang selalu terbuka saat kau lelah

Yang selalu menunggu saat kau marah

Selalu rindu saat kau merajuk manja

Tempat mula kubisikkan doa

Semoga kau selalu bahagia

dan izinkan aku mengusahakannya


***



DARI AKU YANG MENCINTAIMU



Sehat-sehat Sayang ... Bahagialah selalu

dari aku yang mencintaimu …

Kau boleh cintai siapa saja

Tapi bila kau terluka, aku takkan pernah rela

Kecuali dia buatmu bahagia, maka ikhlaslah jiwaku

Takkan lagi kutuntut rindu, biar yang rasa cuma aku


Baik-baiklah sayangku ... Dari aku yg mencintaimu

Kejar semua citamu aku yakin kau dapat

Karena kutahu engkau hebat

Tapi saat kau merasa sendiri ... 

aku takkan pernah pergi

Mencatatmu dalam tiap bait Puisi


Dan bila aku sudah tak ada,

kau bisa membacanya kapan saja

Agar kau tahu ada-mu ... 

hidupmu berharga,

kau tak layak sedih dan berduka

Bahagialah dengan siapa saja kau

Walau bukan dengan aku ....aku rela …

Sebab cinta tak memaksa


Bahagialah sayang ... dari aku yang mencintaimu

Walau kali ini tak ada pelukan

Tapi doa untukmu tak akan kulewatkan

Biar di mimpimu aku tak pernah hadir

Karena aku percaya ada cinta dalam takdir


aku akan pulang padamu bila kau mau

dan untukmu aku selalu membuka pintu

Datanglah bila kau lelah ... 

walau pelukanku tak  indah

aku selalu menunggumu ...

dari aku lelaki yang mencintaimu


***





TAHUKAH KAMU MI ? 



Aku tak pernah menggenggam jemari lain dengan cinta kecuali kamu…


Aku tak pernah mengecup bibir lain dengan penuh rindu kecuali dengan bibirmu.


Aku tak pernah memeluk tubuh lain dengan harap

Kecuali kamu …


Aku tak pernah mengelus rambut gadis lain dengan doa-doa indah

Kecuali kamu …


Jadi kamu jangan nakal ... doakan aku

Aku punyamu …


Jadi kamu jangan nakal ... bebaslah kau di sana


Sebab cinta padamu bukan penjara —Terbanglah dengan sayapmu bersenang —Tapi jangan lupa pulang …


***



RUMAH




Pulanglah ke rumah ... 

aku tahu kau lelah

Sandarkan lagi di dadaku

Sejenak biar kuusap luka itu

Hingga reda segala sedih

dan bersama-sama kita ceritakan pada Tuhan

Beratnya jalan cinta ... 

yang kita lalui dalam perih


Pulanglah ke rumah ... 

Marahlah padaku biar aku kau benci

Yang merebut hidupmu ke jalan sulit ini

Apakah sama-sama kita berhutang cinta

Seandainya ada kehidupan sebelumnya

Lalu bagaimana setelah ini,

Sementara tak sanggup kita pergi


Pulanglah ke rumah ... 

biar semua tak suka

Karena kau ada ... Kau nyata ada…

Yang kan kutuntun dari tepian ini hingga surga

dan aku percaya Tuhan selalu sayang kita…


Pulanglah ke rumah ... 

Aku tahu kau lelah


***




PAMIT



Bayangmu serasa tak indah lagi

Tapi kenapa kau tak juga mau pergi

Aku lelah, Sayang…

Menggenggam tanganmu di ketidakpastian,

apalagi yang harus aku tahan…


Adakah kau di sampingku malam ini?

Adakah kau tahu tiap malam sulit kulewati?

Aku, lelaki tak punya air mata,

tapi hasrat sakitku begitu dalamnya.

Dalam dada perih gerimis... Hingga gemetar

di kecut nalarku, tak sanggup lagi sabar…


Wajahmu tersenyum lagi di mimpi.

Tak adil bila rindu hanya aku yang menanggungnya,

dan itu bukan dari kemarin...Tapi belasan tahun cumbui rindu... 

Kau pun tahu itu.

Berapa lembar puisi usang kau buang…

Aku lelah, Sayang…


Aku pamit…

Tak ada peluk cium biar sedikit.

Dan kita tunggu adakah jalan lagi untuk cinta.

Aku takkan lagi datang... 

Kecuali kau ingin pulang.


Aku lelah, Sayang... 

Aku pamit.


***



AKU PAMIT 



Senja ini bukan jingga yang sama,

Bukan tawa kita yang pecah di udara

Hanya ada pamit yang kususun perlahan

Yang menjadi batu yang memberati ucapan


Di matamu, samudra masih bisu 

Namun harus kutitipkan perahu rindu yang sendu

Kapal yang akan berlayar tanpa dermaga kembali

Membawa separuh hati yang tak lagi utuh dimiliki


Jaga baik-baik sisa cinta yang kau simpan

Anggap saja aku angin yang hanya sebentar bertamu

Kupu-kupu yang hinggap berlalu

Sampai jumpa dalam mimpi yang tak terjamah nyata


Aku pamit…


***




TAK PERNAH KAU DENGAR



Aku lelah meminta-Nya, Tuhan, 

maka kini aku merayu-Mu

Berikan hatinya padaku ....

Bila hidup hanya sekali, aku ingin dia di sini kumiliki

Ada... Nyata... Bukan mimpi


Aku lelah meminta-Nya, Tuhan,

Waktu telah menua, tapi mengapa ia masih saja ada

Senyum manis berdiri, apakah aku yang dia tunggu?

Tapi saat kusapa, hanya diam…

Melambai ingin kuhampiri…

Saat kudekati, ia pergi…


Aku lelah merayu-Nya, Tuhan…

Menerka hatinya, atau hanya aku yang rindu?

Dan malam ini, seperti biasanya…

Dia tak mendengar ketukanku.


***







JADI SATU-SATUNYA



Ada nama … 

Yang kutahu begitu jauhnya.

dan adakah dia sadar,

Tentang ini yang tak juga pudar


Aku tak lagi sendiri

Tapi mengapa kau bayangi selalu perjalanan ini

Aku ingin lupa andai saja jadi biasa

Agar tiap langkahku tak lagi terlalu menyiksa


Aku khayal adakah kau tahu…

Aku bermimpi adakah kau tahu

Aku rindu adakah kau tahu

Adakah itu... adakah kau tahu


Adakah nama…

Dari banyak, mengapa kau jadi satu-satunya?

Mengikat rasaku di beratnya rindu

Dan akankah ada satu waktu…

Kulepas segala perasaan itu…

Kulepas segala tentang kamu.


***




JAUH



Salahkah... 

Sering-sering kuintip kau dari jendela

Berharap sebentar saja kau menoleh menatap mata

Ingin bicara aku suka, tapi takut kau tak suka

Lalu kini mesti apa…


Andai kau tahu hati ini selalu rindu

Cukup dekat denganmu serasa dunia semua milikku

Tapi aku tahu kau tak pernah tahu

Mustahil angin katakan padamu

Bila dekatmu saja lidahku kelu


Salahkah... 

bila rasa lagi jatuh cinta?

Tapi sungguh rasa takut lebih keras nadanya

Katakan padamu cintaku sungguh

dan kau akhirnya pergi menjauh…


***



SATU HARI SAJA



Kita hanyalah sahabat yang menyesal berjumpa hanya sebentar…

Sesungguhnya banyak tumpukan tanya di dada

Tapi aku takkan bicara…

Karena tentangmu amatlah singkat

Biar ribuan hari bersama…

Tapi hati akan bilang cepat sekali kau menghilang

Seakan tak pernah bersama…

Walau hanya satu hari saja.


***



LEKAT



Masih ingatkah kau, Jingga?

Siang yang mestinya terang, gelap kala itu

Tiba gerimis basahi kelam rautku

Tak ada ampun, lebih deras waktu itu


Terlelapkah kau, Jingga?

Sebab lebih baik kita pura-pura saja lupa

Walau peluk hangat masih lekat kita ingat

Kutahu bukan hatimu yang tak mau

Hanya saja hari sedang tak indah

Hingga kau tak lagi mau singgah


Bahagiakah kau, Jingga?

Sebab tak ada perahu yang bisa hantarkan lagi kita

Cinta sudah temukan jalannya …

Dan hanya senja yang bisa berpisah dengan indah

Bukan kita …


Duduk saja kau di situ .... 

Aku takkan mengganggumu

Diam-diam memperhatikan

dan perlahan saling melupakan


***




BASAH



Waktu itu....

Tiba-tiba kau bersandar di bahuku

Dan selalu sama, kau irit bicara

Tak peduli berisikku apa…


Kini musim gerimis

Rasanya bukan aku bila hati tak gelisah

Aku yang tak pernah pasrah pada keadaan

Aku yang selalu gundah bila harus diam


Di mana dia?

Kini aku bukan lagi pemberani

Yang tiap malam mencatat di diary

Lalu esok berlari mengejarnya lagi

Tak takut lautan, rimbun gunung-gunung

atau kerikil debu kota ... aku Si Pemimpi


Dan malam itu tiba ...

Seperti biasanya kau jarang bicara

"Kemari saja, peluk aku dulu," kau bilang

Sebab nanti kita tak lagi 'kan bertemu

Aku lalang ... saatnya kau buang


Tiba musim gerimis ...

Adakah sama-sama kau rasa di dada?

Yang merindu nampak hujan di jendela kereta

Menunggu reda hingga basah semua

tiba di terminal ... subuh hari

Dan rokok-ku basah, tak bisa dibakar lagi


***




PAYAH



Bolehkah kutitipkan di dadamu saja

Puisiku tentang cinta …

Bilang padaku, "Jemput aku segera ..."

Maka aku akan tiba,

Biar payah aku mencoba …


Ku tak bisa melukis indah gerimis,

Yang kutahu tiap hujan maka ada kau dalam genangan.

Bilang padaku, Sayang ... ada rindumu juga dalam bayang,

Maka aku akan datang ...Biar payah mencoba.


Tak perlu kubilang cinta... Kau sudah tahu.

Tak perlu kubilang rindu... Kau sudah tahu.

Kau pun sadari sesungguhnya aku benci puisi,

aku hanya ingin memelukmu malam ini.


Dan untukmu, tak terhitung…

Beribu puisi sudah, tetapi aku masih kalah.

Hingga tak perlu cintaku jadi syair,

cukup larut denganmu, mengalir

tentang perasaan ini…


Tapi nyatanya, untukku masih air mata

karena kau tak pernah bisa cinta,

biar susah payah aku mencoba.


***




MERASAI-NYA



Dan adakah pencerah hati?

Kudapati di jalan ini lagi.

Seperti bayang senyum terlintas,

saat dulu di sini kita berpapas,

kau dan aku


Ku kisahkan kau dengan lantang

tentang hari-hari, 

di mana cinta yang rupanya tak ikut padam, 

masih tak merapuh seperti kita.

Iya, rapuh... Seperti kita


Tapi rindu masih saja hebat,

walau entah juga di hatimu.

Kubilang pada jiwa kalau kau pun ingat aku,

agar hati ini tenang.


Tapi rindu masih saja hebat.

Hingga detik ini aku masih gemetar.

Namun nasib di bumi tak lagi mengajakmu kemari,

padahal jemari ini masih rindu menggenggam tanganmu.

Cukup satu kali lagi.


Dan adakah kenang lagi

akan cinta dan masa muda.

Sebab bosan aku merasainya

Sebab lelah aku mengenangnya

Sebab aku benci melepaskannya

Sebab aku benci air mata


Aku benci merasainya


***



RINDU JEMARIMU



Sayang... 

Maafkan aku kembali berpuisi,

Dan susahmu tak kupeluk. 

Mestinya jemarimu kugenggam kuat

Tak cukup sekadar aku ingat.


Kudengarkan lagu-lagu—tapi kantuk tak juga datang

Malah wajahmu yang jelas terbayang.

Kau selalu cantik, Sayang

Kerut lelahmu lebih kusuka

Tanda aku mencintai wanita biasa

Bukan menatap bidadari surga

Berarti aku sudah mati — tengah di sana


Sayang... Malam ini aku rindu menggenggam jemarimu.

Mengingatmu penguat saat aku lelah

Dan tentang cinta ini, aku tak mau mengalah


Sayang... Aku rindu menggenggam jemarimu.


***



SAMA PENCURI



Kau sepertinya memendam malu

Menemuiku hanya dalam gulita

Di persimpangan malam baru sekejap kau ada

Apa yang kau tunggu wahai gadis kidung jingga


Rindu belumlah bernyanyi,maka jangan dipikirkan lagi

daripada hanyut malammu dalam gelisah.

Tak usah banyak bertanya jikalau tentang cinta.

Bila datang ikhlas saja, biar menikam.

Pun nanti dia pergi, tak lama- sesuka hati.


Kau sepertinya memendam rindu

Lihat dari binar kau berkata, menjelang senja.

Dan rindu rasanya memang gila

Lalu kita mesti apa?


Kau sepertinya memendam cinta– aku juga, kita sama-sama buta

Mencari jawab di tengah dilema

Menjelang pagi baru kita pergi.

Kita sama-sama pencuri


***




PRIA PENGHIBUR



Senyumlah... aku suka

Sebab kutahu banyak duka di dadamu

Tapi matamu jangan kau basahi.

Lesung pipimu biar tersungging manis,dan wajahmu tampak cantik lagi


Tertawalah... aku suka

Lupakan segala perih yang hanya sebentar

Kutahu kau jenuh di segenap yang kau pikir,

Maka jangan pikirkan lagi, biar tulus kau tersenyum,

Dan lesungmu tampak makin manis lagi.


Senyumlah, dan jangan banyak kau bertanya

Jangan kau tanya perasaanku

Jangan tanya duniaku

Jangan tanya kenapa ini kau dan aku,

Sebab rasa pun datang tanpa banyak bertanya

Bila dijawab kutakut pasti akan sakit,

Pasti akan sakit…


Aku pria penghiburmu

Jangan kau tanya perasaan

Aku pria penghiburmu

Jangan kau tanya keadaan


Tersenyumlah... aku suka

Siapapun isi dihatimu

Tersenyumlah... aku suka

aku pria penghiburmu


Ya... tersenyumlah…



***




BAB III: PERDEBATAN BATIN



PANGANDARAN


Malam itu, di kamar yang suram, suasana terasa sunyi. Chapunk baru saja meletakkan buku di meja saat ponsel **Nokia** miliknya di atas kasur bergetar. Layar kecil dengan lampu latar berwarna jingga itu menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk.

Ia meraih ponselnya, kemudian membuka SMS nya


*"Cha, aku mau ke Pangandaran. Ikut yuk? Kalau mau, besok aku tunggu di terminal Leuwipanjang ya, naek Bus aja"*


Chapunk membaca pesan itu sekali, dua kali, lalu tersenyum tipis. Ia membalas dengan jempol yang lincah: 


**"Oke, aku ikut. Besok kita ketemu ya."**


Setelah mematikan ponsel, ia meletakkannya kembali. Di samping buku diary nya yang setiap hari ia isi.

Malam itu, tidur Chapunk sedikit lebih nyenyak dari biasanya, terbayang deru ombak dan suasana pantai.


Esok harinya berjalan dengan ritme yang lambat. Chapunk menghabiskan siang dengan menyiapkan barang bawaan—beberapa kaus oblong, celana pendek, dan perlengkapan mandi—yang ia masukkan ke dalam tas selempang tua. Sepanjang hari, ia tidak bisa berhenti melirik jam dinding, menunggu waktu merambat ke malam.


Saat langit benar-benar gelap, barulah ia berpamitan. Udara malam yang dingin khas Bandung menemani perjalanannya menuju Terminal Leuwi Panjang.

Begitu sampai di area pemberangkatan, suasana terminal begitu hidup. Bau solar yang menyengat, suara klakson bus yang saling bersahutan, dan teriakan kondektur yang memanggil calon penumpang menciptakan simfoni khas kota besar


Chapunk berjalan menuju bus **Budiman** yang sudah terparkir rapi dengan mesin yang dinyalakan, mengeluarkan kepulan asap tipis di bawah lampu sorot terminal.

Ia naik ke dalam kabin yang pengap namun terasa akrab. Aroma jok kain yang sudah memudar warnanya bercampur dengan wangi parfum murah penumpang lain. Chapunk memilih duduk di barisan tengah, tepat di samping jendela yang kacanya sedikit berembun karena perbedaan suhu.


Saat bus perlahan meninggalkan terminal, ia mengeluarkan ponsel nya lagi, memastikan baterainya masih cukup untuk hari esok. Suara mesin bus yang menderu pelan di bawah kursi menjadi musik latar yang menemaninya memandang lampu kota yang perlahan tertinggal di belakang, menyisakan kegelapan jalanan menuju Pangandaran.


Bus Budiman yang ditumpangi Chapunk akhirnya membelah kabut pagi, memasuki kawasan Pangandaran saat matahari baru saja menyembul malu-malu di ufuk timur. Suara mesin diesel yang tadi menderu konstan kini perlahan melambat, berganti dengan decit rem saat bus menepi di depan gerbang kawasan wisata.


Udara pagi itu terasa beda—lembap, asin, dan membawa aroma laut yang tajam. Chapunk turun dari bus dengan mata yang masih sedikit mengantuk, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Di kejauhan, ia melihat sosok yang dikenalnya sedang berdiri di dekat sebuah kedai kecil. Itu Nefa. Ia tampak segar dengan jaket denim tipis, melambai ke arah Chapunk dengan senyum yang membuat rasa lelah perjalanan semalam menguap seketika.


Setelah saling sapa dengan antusias, mereka sepakat untuk segera menuju penginapan. Di pinggir jalan, beberapa penarik becak sedang mangkal, menunggu penumpang.

"Ke homestay yang dekat pantai aja, Mang," ujar Nefa kepada salah satu penarik becak.


Mereka pun naik ke becak. Duduk berdampingan di kursi yang sempit membuat suasana terasa akrab. Chapunk bisa merasakan guncangan ritmis becak yang melewati jalanan beraspal yang masih basah oleh embun. Sepanjang jalan, mereka disuguhi pemandangan deretan pohon kelapa dan bangunan-bangunan kayu yang sederhana. Suara gesekan roda becak dan desau angin laut menjadi satu-satunya musik pengiring perjalanan pendek itu.


Sesampainya di sebuah homestay bergaya bangunan kayu dengan halaman yang rindang, mereka segera melapor ke resepsionis dan mendapatkan kunci kamar.


Kamar itu sederhana saja; hanya ada satu tempat tidur besar dengan seprai putih yang bersih, sebuah kipas angin tua yang berputar perlahan di langit-langit, dan cermin besar di sudut ruangan. Begitu pintu ditutup, suara hiruk-pikuk pengunjung luar langsung teredam, menyisakan kesunyian yang nyaman.


Rasa lelah yang tertahan selama perjalanan di bus akhirnya menyerang. Tanpa banyak bicara, mereka sepakat untuk beristirahat sejenak guna memulihkan tenaga sebelum benar-benar menikmati suasana pantai nanti. Chapunk meletakkan ranselnya di lantai, sementara Nefa sudah lebih dulu merebahkan diri di atas kasur yang terasa empuk.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk terlelap. Dalam sekejap, suara deburan ombak dari kejauhan menjadi pengantar tidur yang paling sempurna, menyelimuti keduanya dalam lelap yang dalam di kamar homestay tersebut.



GERIMIS MALAM LEBARAN


Dua hari di Pangandaran terasa seperti mimpi yang perlahan memudar. Dengan uang yang benar-benar pas-pasan, mereka berdua menekan pengeluaran sekecil mungkin. Nasi bungkus di pinggir jalan dan air mineral menjadi menu utama. Namun, semakin mendekati hari raya, harga-harga di sekitar pantai melonjak drastis.


Saat tiba waktunya *check-out* dari penginapan pertama, mereka harus menghadapi kenyataan pahit. Uang di dompet sudah hampir habis, dan semua homestay memasang tarif selangit karena libur panjang. Mereka menyusuri jalanan dengan ransel di punggung, berpindah dari satu penginapan ke penginapan lain, namun selalu berakhir dengan penolakan karena harga yang tak terjangkau.


Di malam takbiran, saat suara bedug dan gema takbir bersahutan di kejauhan, mereka akhirnya menemukan sebuah rumah kayu tua di gang sempit. Pemiliknya, seorang ibu paruh baya dengan wajah teduh, melihat raut kelelahan di wajah mereka. Setelah mendengar cerita jujur Chapunk—yang tidak tahu lagi harus ke mana—ibu itu akhirnya tersenyum iba dan memangkas harga menjadi sangat murah.

Namun, di dalam kamar yang sempit dan berbau apek itu, Chapunk justru merasa sesak.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menunduk dalam-dalam. Hatinya perih. Ia teringat keadaan keluarganya yang baru saja bangkrut, dan statusnya yang masih pengangguran. Selama dua hari ini, setiap kali mereka membeli makan atau membayar tiket masuk, Nefa-lah yang selalu mengeluarkan uang. Harga diri Chapunk hancur berkeping-keping. Ia merasa bukan sebagai pria yang melindungi wanita yang dicintainya melainkan beban yang memalukan.


Nefa, yang lelah karena seharian berjalan kaki, sudah berbaring membelakangi Chapunk. Lampu kamar sengaja dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu jalan yang menembus celah jendela kayu.

Dalam sunyi yang mencekam, Chapunk mendengar suara isakan halus.

Ia menoleh perlahan. Di kegelapan itu, bahu Nefa berguncang pelan. Nefa sedang menangis. Chapunk mematung. Ia ingin sekali mendekapnya, tapi sadar diri tak bisa. Ingin sekali ia bertanya kenapa nefa menangis dan berharap meredakan nya,


Namun, ketakutan lebih menguasai dirinya. Ia takut jika ia bertanya, air mata itu akan tumpah lebih deras. Ia takut jika ia mulai bicara, ia tidak akan sanggup menahan isaknya sendiri dan akan menunjukkan betapa rapuhnya ia saat ini.


Chapunk memilih untuk tetap diam. Ia berbalik, memejamkan mata erat-erat, dan memaksakan diri untuk pura-pura tidur. Suara takbir di luar sana kini terdengar seperti ejekan bagi kesunyian di dalam kamar. Di dalam hatinya, ia menjerit, mengakui betapa besar rasa cintanya pada Nefa, namun sekaligus sadar bahwa dengan kondisinya yang sekarang, ia hanyalah seorang pria yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.


Di malam takbiran itu, mereka tidur dengan jarak yang dekat di atas kasur yang sama, namun dipisahkan oleh rahasia dan kesedihan yang tak terucapkan.


Suasana Pangandaran di pagi hari Idul Fitri tidak seperti yang dibayangkan Chapunk. Di luar sana, suara takbir masih bergema, bersahutan dengan deburan ombak yang terasa asing di telinga mereka. Tak ada aroma opor buatan ibu, tak ada keriuhan saudara yang berebut salam tempel, dan tak ada hangatnya sungkem di kaki orang tua. Yang ada hanyalah dinding kamar penginapan yang lembap dan kesunyian yang mencekik.


Chapunk duduk di pinggiran tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Di sampingnya, Nefa terdiam, tak banyak bicara hanya tampak sibuk memainkan ponselnya.


Ketukan di pintu kamar memecah keheningan. Nefa bangkit dengan langkah berat untuk membuka pintu. Di sana, Ibu pemilik penginapan berdiri dengan senyum teduh yang justru membuat pertahanan diri mereka runtuh. Ibu itu membawa sebuah nampan berisi ketupat, opor ayam, dan sambal goreng ati yang masih mengepul panas.

"Selamat Lebaran ya, Nak. Kasian kalian jauh dari rumah. Jangan merasa sendiri, sok makan dulu," ucap Ibu itu lembut, seolah tahu persis kerinduan yang sedang mereka pikul.


Nefa menerima nampan itu dengan senang hati. Saat Ibu itu berlalu, Nefa kembali ke dalam dan meletakkan makanan itu di atas meja kecil. Aroma masakan rumah itu justru memicu rindu yang sejak tadi mereka tahan. Mereka makan dalam diam. Kehangatan yang disuguhkan Ibu penginapan itu justru menjadi pengingat bahwa kebaikan bisa ditemui dimana saja


Malam harinya, mereka memutuskan untuk segera pulang ke Bandung. Perjalanan darat itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di dalam bus mereka hanya sesekali berbincang singkat, tak ada yang penting. Hanya didalam hati chapunk berkecamuk, merasa gagal tidak bisa membahagiakan nefa wanita yang dicintainya. Tak ada raut marah di wajah nefa, hanya raut lelah dan sesekali chapunk menatapnya dengan rasa bersalah


Bus pun akhirnya tiba di Terminal Leuwipanjang pagi hari. Mereka turun dengan letih. Kemudian seperti biasa Nefa salim, mencium punggung tangan Chapunk tanda perpisahan.


“Yu cha, aku balik dulu, kamu hati-hati ya, mohon maaf lahir batin ” kata nefa sembari salim. Capunk pun membalas sembari mengusap rambut nefa yang nampak berantakan karena tertidur di Bus

“Iya, aku juga ya, udah banyak banget dosa aku, mumpung masih lebaran maafin juga ya,” ujar capunk sedikit bercanda. Kemudian mereka menaiki angkutan umum ke jurusan masing-masing.


Tapi setelah hari itu, Capunk dan Nefa tak pernah bertemu lagi.






DUA MAWAR



Waktu seolah terhenti saat nama Nefa muncul di layar ponsel Chapunk setelah sekian tahun berlalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena sisa-sisa cinta lama yang membara, melainkan karena getaran masa lalu yang tak pernah benar-benar mati.


Selama tahun-tahun yang menyakitkan itu, Chapunk memilih untuk menghilang. Ia menenggelamkan dirinya dalam rasa malu, membiarkan ego dan ketidakberdayaannya menjadi tembok pemisah. Namun, kini hidupnya telah berubah. Ada Lira di sana—gadis asal Banda Aceh yang sedang menempuh pendidikan kedokteran.


Lira adalah antitesis dari segala kerumitan yang dulu dialami Chapunk. Ia seperti mawar putih; tenang, sabar, dan suci. Setiap kali Lira mengirim pesan atau suaranya terdengar dari balik telepon, Chapunk merasa seperti menemukan rumah yang damai. Lira adalah oase yang perlahan membasuh luka harga diri Chapunk, perlahan menyusun kembali kepingan hatinya yang dulu sempat hancur.


Chapunk merasa telah berhasil melangkah maju, melepaskan bayang-bayang Nefa yang dulu menghantui setiap malamnya.

Namun, pesan dari Nefa itu datang seperti badai yang tiba-tiba meruntuhkan ketenangan yang baru saja ia bangun.


> *"Cha, apa kabar? Ketemu yuk."*> 


Ponsel di genggaman Chapunk terasa sangat berat. Jempolnya bergetar di atas papan tombol. Di satu sisi, ada rasa penasaran yang menusuk—apa yang ingin dikatakan Nefa setelah sekian lama? Apakah ia ingin menutup lembaran lama, atau justru membuka luka yang sudah mengering?


Di sisi lain, bayangan wajah Lira muncul di benaknya. Ia teringat janji-janji lembut yang mereka rajut, suara tawa Lira yang selalu berhasil mengusir kegelisahannya, dan ketulusan gadis itu yang membuat Chapunk merasa berharga kembali.


Chapunk menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari udara di tengah sesak yang kembali datang. Ia sadar, pertemuan ini adalah persimpangan jalan. Jika ia pergi menemui Nefa, ia berisiko mengotori ketenangan yang ia miliki bersama Lira. Namun, jika ia menolak, ia tahu pertanyaan di kepalanya akan terus menghantui dan mungkin tak akan pernah terjawab selamanya.


Ia menatap layar ponsel itu lama sekali, lalu beralih menatap foto Lira yang ia pasang sebagai *wallpaper*. Ia benar-benar mencintai Lira, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa takut kehilangan sesuatu yang begitu berharga.


Nefa dan chapunk pun bertemu, rasa rindu Chapunk pada Nefa rupanya mergalahkan rasa takutnya.


Pertemuan itu berlangsung di sebuah kedai kopi tua yang tenang, tempat di mana waktu seolah melambat. Saat Chapunk melihat Nefa melangkah masuk, ia merasakan degup jantung yang familiar—sebuah tarikan kuat yang selama ini ia coba kubur rapat-rapat. Ternyata benar, cinta itu tidak pernah benar-benar mati; ia hanya tersembunyi di sudut paling dalam, menunggu dipanggil kembali.


Namun, saat Nefa duduk di depannya dan melepaskan senyum yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat, Chapunk mendapati kelegaan yang luar biasa. Di jari manis Nefa, melingkar sebuah cincin pernikahan. Nefa bercerita tentang hidupnya yang kini telah berlabuh di kota lain, jauh dari memori-memori sulit yang pernah mereka lalui bersama.


Dengan jujur, Chapunk menceritakan tentang Lira. Ia menceritakan gadis dari Banda Aceh itu, sosok yang sedang berjuang dengan buku-buku kedokterannya di ujung pulau sana. Chapunk menyebut Lira sebagai mawar putihnya—sosok yang memberinya kedamaian saat dunianya dulu porak-poranda.


Nefa mendengarkan dengan tatapan yang sama—tatapan yang seolah mampu menembus lapisan jiwa Chapunk yang paling rumit. Ia adalah satu-satunya manusia yang pernah menyaksikan Chapunk di titik terendah, yang tahu betapa hancurnya harga diri Chapunk saat ia tak mampu memiliki apapun. Mungkin itulah mengapa meski status mereka telah berubah, Nefa tetaplah satu-satunya yang memahami "labirin" di dalam jiwa Chapunk. Apakah Nefa sahabatnya? Kekasihnya? Atau perwujudan dari masa muda yang tak pernah usai? Chapunk sendiri tak sanggup mendefinisikannya.


"Cha," ucap Nefa pelan sebelum mereka beranjak. "Kamu harus bahagia. Apapun yang terjadi, kamu harus selalu bahagia."


Kalimat itu terdengar seperti restu sekaligus perpisahan yang definitif.


Chapunk terdiam cukup lama. Ada rasa sedih yang menyelinap—sebuah duka kecil karena menyadari bahwa cinta untuk Nefa akan selalu ada sebagai bagian dari sejarah hidupnya yang paling emosional. Namun, rasa sedih itu tidak lagi melumpuhkan.


Chapunk menatap layar ponselnya. Ada pesan baru dari Lira yang masuk, menanyakan kabarnya hari ini. Mawar putih itu menantinya di seberang pulau, membawa harapan akan masa depan yang tenang dan stabil. Chapunk pun tersenyum tipis. Ia sadar, ia tidak bisa terus hidup di masa lalu. Ia memiliki Lira, dan untuk pertama kalinya, ia merasa sanggup untuk tidak hanya mencintai, tetapi juga menjaga.

Ia akhirnya mengerti; Nefa adalah masa lalunya yang mengerti segalanya, sementara Lira adalah masa depannya yang menawarkan kedamaian. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.


Pertemuan itu berakhir dengan hening yang menenangkan. Saat mereka melangkah keluar dari kedai kopi, Chapunk menyadari betapa waktu telah membentuk Nefa menjadi sosok yang berbeda. Ia tampak lebih cantik, dengan guratan kedewasaan yang membuatnya terlihat anggun dan tenang. Aura yang dulu penuh kecemasan, kini berganti menjadi ketenangan seorang wanita yang telah menemukan tempat berlabuh.


Di tepi jalan, sebuah mobil terparkir rapi. Nefa memberikan isyarat agar Chapunk ikut dengannya. Seperti kebiasaan lama bertahun-tahun silam, Nefa menawarkan diri untuk mengantar Chapunk pulang.


Di dalam mobil yang nyaman, wangi parfum Nefa yang elegan menyelinap, berbeda jauh dengan aroma debu jalanan yang dulu sering mereka bagi bersama. Chapunk duduk di kursi penumpang, menatap Nefa yang sedang fokus menyetir dengan gerakan yang luwes dan penuh percaya diri. Wajah Nefa di bawah pantulan lampu jalan terlihat begitu memesona, jauh lebih dewasa dari gadis yang dulu ia kenal.

Suasana di dalam mobil terasa hangat namun penuh jarak. Tidak ada lagi kecanggungan tentang siapa yang harus membayar makan, tidak ada lagi ketegangan tentang masa depan yang buram.


"Kamu mah kayak ga berubah,," ucap Nefa pelan sambil tetap menatap jalanan.


Chapunk hanya tersenyum tipis. "Ahh,, perasaan kamu aja, aku mah ga mau tua." Jawab chapunk


Saat mobil berhenti tepat di depan rumah Chapunk, suasana terasa sentimental. Nefa menoleh, menatap Chapunk dengan sorot mata yang sama—sorot mata yang seolah bisa membaca setiap inci kerumitan jiwa Chapunk yang bahkan tidak mampu ia jelaskan sendiri.


"baik-baik, ya, nanti ketemu lagi" pesan Nefa tulus.


Chapunk mengangguk, lalu turun dari mobil. Ia berdiri di pinggir jalan, memperhatikan mobil Nefa yang perlahan menjauh dan hilang ditelan tikungan.


Saat ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, Chapunk menarik napas panjang. Ia mengambil ponselnya, dan di sana, di layar itu, terpampang pesan dari Lira. Ia merasa sebuah bab telah resmi ditutup dengan anggun. Ia masih mencintai Nefa dengan cara yang tak terdefinisi, namun kini ia tahu bahwa ia telah siap untuk menyambut hari esok bersama mawar putihnya di ujung pulau sana.



SAMA-SAMA PENCURI


Di bawah langit sore yang mulai menguning, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Chapunk dan Nefa. Kota ini tetap sibuk dengan urusannya sendiri, namun di antara keramaian itu, mereka berdua hidup dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri—dunia yang tenang, namun penuh dengan retakan yang tak kasat mata bagi Chapunk.


Lira, kekasih Chapunk, ada di sana, di balik ribuan kilometer jarak dan layar ponsel yang dingin. Begitu pula suami Nefa, sosok yang kehadirannya hanya bisa dirasakan lewat cerita-cerita.


Pertemuan mereka selalu terasa seperti jeda. Tidak ada drama besar, tidak ada janji untuk meninggalkan pasangan masing-masing. Hanya sekadar duduk di kursi kayu taman kota atau berjalan menyusuri trotoar yang mulai basah oleh gerimis.


Chapunk melirik ke samping. Ia memperhatikan perubahan pada diri Nefa. Perut wanita itu kini sudah terlihat jelas membuncit. Tidak ada kata-kata penjelasan dari Nefa, dan Chapunk pun tidak pernah bertanya. Ia hanya tahu bahwa ada kehidupan yang tumbuh di sana–Iya, Nefa tengah hamil. Sebuah realitas yang membuat perasaan di dalam dada Chapunk semakin sesak oleh dilema.


Nefa bercerita tentang kesehariannya dengan nada yang selalu datar dan tenang. Tentang kehidupannya, pekerjaan nya, tentang dinding-dinding yang seolah ingin menelannya setiap malam. Chapunk mendengarkan dengan seksama, Namun, bagi Chapunk, setiap pertemuan adalah ujian. Ia terjebak dalam teka-teki yang tak pernah terjawab. Ia sering bertanya-tanya dalam diam, apakah di balik ketenangan sikap Nefa, tersimpan perasaan yang sama dengannya? Atau mungkin, Nefa memang benar-benar hanya menganggapnya sebagai satu-satunya orang yang bisa diajak berbagi beban saat ia merasa terasing? Tidak ada jawaban yang pasti. Nefa tetap menjadi misteri yang membuat Chapunk semakin tidak bisa melepaskan diri.


Chapunk bergulat dengan dunianya. Ia tahu ia memiliki Lira, wanita yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat ia berlabuh. Namun, ketika ia berjalan di samping Nefa, ada kenyamanan yang sulit ia definisikan. Mereka tidak pernah melakukan hubungan yang terlarang; tidak ada sentuhan yang melampaui batas, tidak ada kata-kata cinta yang diucapkan secara gamblang oleh keduanya.


"Kadang, aku kayak orang gila Cha, kesal terus" kata Nefa tiba-tiba sambil tersenyum entah apa di isi pikirannya..


Chapunk menoleh. Ia bisa melihat guratan lelah di wajah Nefa, namun ia tidak bisa membaca apa pun di balik mata wanita itu. Apakah ucapan itu adalah kode untuknya? Atau hanya sebuah keluhan

"Ga ngerti ah,,," jawab Chapunk singkat, memang sebenarnya tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang berkecamuk di pikiran Nefa.


Mereka berjalan lagi. Chapunk sesekali melambat agar Nefa tidak terlalu lelah. Tidak ada obrolan tentang perceraian, tidak ada rencana untuk melarikan diri bersama. Mereka hanyalah dua orang yang terjebak dalam arus kehidupan yang tidak mereka pilih sendiri.


Chapunk terus memikul beban dilema itu sendirian. Ia mencintai Nefa dengan cara yang diam-diam menyakitkan, sementara Nefa tetap menjadi sosok yang tak terbaca—mungkin ia memang butuh Chapunk, mungkin ia hanya butuh teman, atau mungkin ia sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih dalam dari apa yang pernah dibayangkan Chapunk.


Saat mereka harus berpisah di persimpangan jalan, Nefa hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang terlalu sulit untuk diartikan. Chapunk pun berlalu, kembali ke dunianya sendiri, membawa potongan hati yang entah kenapa, kini terasa lebih berat dan lebih kosong dari sebelumnya. Di kota ini, di balik kesibukan yang riuh, Chapunk adalah orang yang terjebak dalam teka-teki perasaannya sendiri, menjaga rahasia yang mungkin hanya ia rasakan seorang diri.


***




CUKUP


Akankah ada masa

Aku di sampingmu menatapmu tertidur dengan lelapnya?

Sambil sesekali kumainkan rambutmu,

Berharap sedikit redakan lelah,

Sandarkanmu di dadaku.


Akankah ada hari …

Cintaku untukmu menjadi penuh arti,

Tak lagi sekadar puisi muluk,

Tapi nyata raga ini utuh kau peluk,

Bukan cinta, bukan lagi rindu,

Isinya hanya tentang kau dan aku.


Sayang ... 

berkali-kali ingin kulupakan kau, tapi tak bisa.

Ingin kututup kau, tapi tak bisa.

Ingin kulepas kau, juga tak bisa.

Seperti kaulah hari-hari yang selalu kubawa, 

tak peduli aku kemana.


Sayang ... 

sesungguhnya aku malu mencintaimu,

Tapi jiwa selalu menuntut kau ada

Tapi rasa selalu pulang padamu,

Tapi rindu selalu arahkan ke hadirmu,

Dan aku tak butuh bidadari —

Cukup ingin kumiliki kau …

maka tak kuminta apa-apa lagi.


***




JADI BIASA


Aku tahu kau pasti biasa,

sebab aku sadar tak pernah jadi istimewa.

Yang sesekali kau cari di saat sepi,

di kotak pesanmu paling bawah,yang hanya di baca nanti


Aku tahu kau pasti biasa …

Sebab aku sadar tak pernah jadi apa-apa.

Tapi tak apa, Sayang ... 

aku terbiasa sakit,

Berdoa bimbang ... 

agar hasrat ini hilang.


Sayang ... Malam ini aku rindu.

Maka maafkan aku yang berdosa menginginkanmu,

Mengharap agar pagi nanti mati rasa.

Tapi yang hadir masih syair-syair cinta …

Yang kutulis dengan air mata dan doa-doa,

Padahal semua itu bagimu biasa,

Seperti malam sebelumnya.


Tuhan ... aku ingin jadi istimewa,

Seperti mereka yang sama-sama jatuh cinta.

Karena dosa pun rupanya punya mata,

Tapi aku buta ….


***



TAKUT KECEWA


Kutitipkan rinduku pada rintik hujan

dan kuselipkan doa semoga kau baik-baik saja

Tuhan, wujudkan semua yang kau minta

dan menjaga segala yang kau punya

Itu saja.....


Kau tak pernah tahu rasanya hati yang teduh saat melihat kau tersenyum.

Hati yang bahagia kala menatap bibirmu cerewet bicara.

Menatap matamu membuat aku percaya,

bidadari itu ada ....


Sayang, aku tak tahu sejak kapan aku mencintaimu.

Padamu lagi aku selalu jatuh ....

Bahkan kau tak hilang saat aku menjauh.

Bebaslah sayang, bebaslah jalani harimu,

sebab cintaku tak menuntut apa-apa,

sebab aku sadar ... aku takut kecewa.


Sayang, semoga di hatimu ada tempat aku pulang.

Tapi tak apa bila kau tutup pintu.

Takkan menyesal aku mencintaimu.

Mungkin kembali berkelana,

habiskan hari yang tersisa …

sembari tuliskan tentang kamu,

abadi dalam majas bahasa,

tentangmu yang selalu aku cinta


***




TAHU DIRI



Andai hatimu sebuah buku,

bisakah kau buka agar bisa aku baca?

Sebab lembar pertama sudah hilang,

jilidnya pun sudah lama terbuang.


Dan aku tak peduli apa judulmu,

aku hanya ingin tahu isi tiap lembar di hatimu.

Adakah pernah ada aku,

dalam satu kalimat saja?


Andai hatimu sebuah buku,

adakah tertambat sedikit cerita tentang aku?

Sebab bila tentang kau, ribuan bait sudah kubuat.

Sebagian kau baca, sebagian mungkin tak kau lihat.

Apalagi tentang hasrat, yang tak pernah kukirim padamu,

sebab aku tak mau cintaku disebut nafsu.


Andai kamu sebuah buku,

masih tersisakah lembar kosong untuk aku isi

tentang kita di dalamnya?

Sebab kadang aku lelah mengharapkanmu,

apalagi saat tahu diri datang,

tak mungkin kamu mengingat aku.


Sayang... doakan aku cepat pergi

Sebab cinta ini terlalu jauh melamunkanmu

Badan ini jalang…

Berkali-kali mimpi tentang kita tengah liar di ranjang

Saling terengah-engah menikmatinya

Tapi nyatanya kau akan berkata…

 "Apa sih... aku tak suka..."


Andai hatiku sebuah buku

Terima kasih, karena tentangmu di tiap lembarnya

Semoga cepat kututup bukunya

Akhiri saja... aku ingin lupa


Sayang... doakan aku cepat pergi

Sebab sisi lelakiku tak tahan lagi

Tak mau lagi berangan…

Mencintai sendirian

Mencumbumu hanya dalam angan

Karena hasrat itu menyakitkan


***





HUKUM DIA



Wajahnya selalu tampak, 

padahal aku ingin pergi.

Lari dari segala sisi... 

Lari dari rindu tentang dia.

Kenapa begitu sulit, Tuhan?

Benarkah sedalam ini?


Apakah suara-suara ini ada di kepalanya?

Apakah rasa ini ada di dadanya juga?

Apa hanya aku yang rasakan?

Aku menyerah, Tuhan.


Salah satu ciptaan-Mu selalu menggangguku.

Hukum saja dia jadi jodohku.


***



MALU


Bercerita pun takkan ada yang peduli deritamu

Sebab yang paling jujur saat ini

Hanyalah lagu sedih dan secangkir kopi

Yang tak sembunyikan rasa pahitnya

Tak bersembunyi dari hitamnya


Maka tersenyumlah …

Karena dunia takkan peduli walau kau marah

Dunia takkan peduli walau kau lelah


Dan bila ada yang peduli pada susahmu,

percayalah itu hanya ada dalam opera.

Sebab kisah yang indah hanya dalam drama.


Maka berbahagialah bila ada yang mencintaimu.

Sebab suara rindu yang sering kubagi-bagi itu nyatanya

tak pernah lagi terdengar di telinga.

Dan tak ada bibir yang mau mengatakannya,


dia malu... 

Sebab di hatinya bukan aku…

Aku tahu…


***



BIMBANG


Adakah kau tahu perasaan ini

Yang merekam jejak di detak kau ada

Sementara pagi masih lama

Dan bayangmu makin jelas bila kututup mata

Oh Tuhan... Aku ingin hatiku jadi biasa


Aku bosan bermimpi tentangmu

Yang bergegas datang saat aku mulai lupa

Hingga kerinduanku tak pernah bisa mengering

Dan aku selalu takut tertidur

Aku tak mau kau datang


Apa kau tahu perasaanku

Yang bahkan bimbang memintamu dalam doa-doa

Aku mungkin masih bisa melihatmu

Tapi ya Tuhan... Aku ingin rasaku hilang saja

Biar jadi biasa


***





HILANGKAN SAJA



Seperti malam biasanya, aku mulai memikirkanmu

Semuanya menjadi hening

Semua tiba bersayap meninggalkanku

Dan kau menyusup dalam dada


Dan beginikah rasanya

Nestapa hati yang tengah merindukan.

Kalau begitu, aku tak ingin merasakan.

Biar perasaan ini diam ... Diam saja,

Sebab Bulan itu jauh, Tak tersentuh … Biar indah,

dan akulah pungguk yang merindukannya.

Bersinar saat purnama

Kau ada hanya sebentar saja.


Seperti malam biasanya

Baringku terpatri pada mimpi-mimpi.

Padahal kau sudah jauh membawa rasaku pergi,

namun tetap saja kau kirimkan wanginya Ke arahku lagi.


Seperti malam biasanya

Dan beginilah yang harus kurasa, saat hati salah merindukannya.

Oh Tuhan ... Aku tak bisa

Hilangkan saja.


***




APA DIA TAHU


Malam... Sebenarnya apa yang kurasa?

Seperti pipit pagi tadi yang ceria tampaknya

kemudian terbang pergi saat hendak ku dekati,

keraskah langkah gerakku hingga dia menjauh?

Apa aku salah, ingin kuraba apa yang terlihat indah.

Apa dia tahu


Malam... kali ini aku sepi

Ruam rindu padahal malas aku rasa

Haruskah aku tidak jujur,

Lalu, di sudut mana beban ini akan kukubur

Tentang hati yang begitu keras mencintai,

padahal jelas aku merasakannya

Namun aku tak mau mengatakannya

Apa dia tahu


Malam... aku ingin tidur

Namun hasrat menggema, ingin meng-gemasi bayangannya.

Dan bilakah ini dosa? Ingin menikmati, mencicipi,dan aku takut tertidur

Aku takut bermimpi bercinta dengannya lagi.

Apakah dia tahu


Malam... aku benci ini

Sebab, aku tidak mau melamunkan nya lagi.

Rindu yang muluk, hanya angan yang kusentuh kupeluk.

Berulang dalam sendiri kubilang sayang,

Kubilang ingin, kubilang dingin, kubilang cinta

Apa dia tahu


***




DUA PUTERI



Di mana kau Jinggaku, aku rindu.

Ada rasa yang belum sempat kusampaikan,

namun rupa hari terlanjur bosan.

Hingga gerimis menghadirkanmu,

dan bayangmu pun ada,

menuntunku perih dalam deras hujan.


Di mana kau jinggaku, adakah ini sempat kau baca?

Seperti kau yang menggangguku kala sunyi.

Aku tahu kau ada, entah tengah apa.

Mungkin dipeluk membuai dua puteri.


Asa ini seperti kecil tanpamu,

dan kau dengan hidupmu, aku dengan hidupku.

Namun tadi sekilas ada bayang yang terbaca.

Rupanya kau masih ada, tak bisa aku lupa.


Jinggaku... adakah ini gemetar kau baca?

Maka tak usah kau balas,

kecup saja dengan ikhlas,

Dan esok hari, biar berjalan lagi.

Hingga tersenyum puas dua puteri dalam hati,

yang pangerannya tengah rindu kalian di sini.


***



SEBENTAR


Benarkah di dadamu itu ada,

selembar cerita dalam diary

yang tak kucatat, tapi jelas aku ingat

Tak lama kau mencuri satu hari di hidupku.

Apa kau ingat juga,

Aku ingin tahu


Adakah tanggal lagi sempat kita bersua,

Ingin rasanya berkeluh, aku rindu semua.

Walau mustahil di dada ini kau kusandarkan

Setidaknya ingin kukecup senyummu, 

satu kali saja.


Ah... hilang lagi kata


***




TAK SUKA



Ingin bertanya ada berapa lagi 

kepingan hatiku yang terserak di sini,

Dan jujur, semalam aku rindu

Tapi entah raga mesti apa,hanya bisa diam

sebab mengerti tanda batasan


Kau menghilang, dan pantaskah aku mencari?

Lelah rasanya merasa kau mengintipku dari jendela.

Aku ingin semuanya pergi... pergi saja

Bila itu tentangmu,

Semestinya tak ada.


Tak akan lama hadirku di dunia

Dan haruskah kurindukan, kurelakan

Sebatas nama-nama

Dan perasaan ini

Aku tak suka.



***





TAK APA



Pernahkah sedikit saja, 

kau ingat aku bila hening?

Seperti malam ini yang bercerita tentang engkau

Padahal adamu telah lama dulu.

kau hilang jauh hari

Kau telah lama pergi


Kadang dilema kuminta kau dalam doa.

Sebab aku sadar tak bisa, Sebab tak pantas.

Sebab tak mungkin meretas lagi

Hanya mimpi yang sudah basi dari pagi kemarin.

Dan aku pun tahu kau tak ingin.


Pernahkah sebentar saja

Terbersit di malam mu mencari aku di mana?

Sebab sering ku mimpi kita papasan saja, aku begitu bahagia

Iya ... Aku sungguh bahagia.


Ini mimpi muluk,

Entah di bagian mana kurasa.

Di dada ini sepertinya genap penuh tentangmu.

Andai saja engkau tahu


Pernahkah sebentar saja

Wajahku terbersit tiba-tiba?

Tak apa bila bayangku hanya kawan saat kau bosan.

Sebab aku tahu kau tak ingin,

Aku tahu tak mungkin.


Iya tak apa,

Bila bayangku hanya kawan kala kau bosan,

Sebab aku tahu kau tak ingin.

Aku tahu memilikimu tak mungkin.


***



LELAKI BIASA



Dan kaulah doa yang paling lama kusebutkan,

yang kuselipkan di antara ribuan bintang.

Sesungguhnya aku tak ingin menulis puisi,

aku ingin bercumbu denganmu malam ini.


Kaulah doa paling panjang yang kusebutkan,

yang tak pernah bosan segera kuaminkan.

Sesungguhnya aku tak suka majas,

aku ingin malam ini kupeluk kau dengan jelas.


Untukmu selalu ingin kuindahkan bahasa,

padahal bersyair aku tak suka.

Hanya berharap dengan tulis, hasratku tak lagi menangis,

nyatanya aku hanya lelaki biasa yang ingin menyentuh, mencium, menghirup sepuasnya,


Sebab cinta tentangmu tak terganti,

dan tak bisa biar kucoba berkali-kali.

Yang hadir untukmu masih puisi,

aku hanya laki-laki biasa,

yang tak cukup merasa dicintai.

Aku ingin... mencumbumu malam ini.


***



PERTEMUAN


Tak apa... 

Sebab wajahmu tak lagi kulukiskan,

hanya bias warna dalam kenangan

Sesekali menyapaku bila hampa

Sekadar ingatkan,

Rasamu pernah ada


Dan kita sama-sama berlari,

yang mendewasa di istana yang berbeda

Yang terhanyut dalam kisah pertemuan

Tapi bukan lagi dalam kita,

Bukan lagi dalam kau dan aku


Dan kita sama-sama berdiri,

meratapi tanpa bisa bicara

Walau dada ini sadar pernah jadi tempat kau menangis,

bergetar saat kau bersandar

Tapi mustahil kuelus lagi rambutmu

Maka ku izinkan kau lewat di depanku.


Tak apa…


***



MENGHAPUSNYA



Hati... benarkah kini dia kau rindui?

Sebab sepertinya malam penuh ketidakjelasan

tentang perasaan... tentang perasaan,


Nalar menerka dia di mana

Dan adakah sedikit saja aku di hatinya, 

di marahnya, di harinya... sedikit saja

Aku pasti bahagia


Hati... tak bisakah kau tak gelisah?

Anggap saja semua kandas berlalu

Dan yakinkan aku bahwa aku dan dia

takkan pernah lagi berjumpa

Biar.perlahan, detik menghapusnya


***



SAMPAI DIMANA 



Dan tentang apa yang dilakukannya padaku,

Kuanggap kalimat yang sekadar kau lewatkan.

Bisa saja kutulis sajak paling sedih,

Bisa saja kutuliskan tentang perihnya perasaan.

Namun tentang luka, aku memang sudah terbiasa.

Terlalu banyak dalam dada

maka kubiarkan saja.


Dan tentang apa yang dirasakannya padaku

Aku takkan lagi memohon sekadar waktumu.

Sebab sadar hati, cinta bukan kau yang memilihnya

Dan aku hanya melangkah searah cinta

Walau tak tahu apa ini kan sampai di dadanya


Dan tentang apa yang dilakukannya padaku

Ah sudahlah... biarkan saja

Bisa saja ku buatkan sajak paling sedih

Tapi cukup hati ini saja yang kan perih

Jangan dia,

biar aku yang rasa luka,

Walau tak tahu sampai di mana.


***




RUSAK



Dan kau tak harus tahu

Apa pentingnya perasaan yang dirasa.

Sebab aku hanya penghiburmu

Tak sanggup diri kutarik tinggi-tinggi,

Memang aku punya apa


Dan kau tak harus tahu

Senyum sajalah, biar dunia pun tertawa

Biar perih cukup di dada

Biar hasrat cukup dirasa

Bercampur bimbang sebab sadar kotornya jiwa

Aku sudah rusak…


Dan kau tak harus tahu

Cukuplah pintaku hanya di mimpi

kapankah kita akan tertawa bersama?

Bukan terbahak melihatku kau tertawa

Aku tak lucu... :)


***




MENGHARAPNYA


Melihatmu sekali lagi

dan esok kuminta satu kali lagi

Hingga lagi dan lagi... 

Tak pernah cukup puas dada

dan kurasa kosong rasa ini menahannya


Apa yang kau curi dari mataku

Hingga selalu sedih bila ia tak menatap wajahmu

Kutahu kita cuma warna jingga senja

Sebelum gelap, baru kita ada.


Sekali lagi…

apa mesti juga kurasa

Bukankah telah cukup hari ini dengan warna-warna

Tapi adamu menggelapkan-nya,

adamu menggelapkan-nya…


Hingga tiba rindu kini menyiksaku

dan pastinya kau takkan pernah tahu.

Entah disimpang mana akhirnya langkah kita sama


dan aku mau, walau tak mengharapnya

Walau tak mengharapkannya.


***





TAKUT KEDUA KALI


Entah apa yang kurasa,

Aku hanya tak sanggup kehilanganmu untuk yang kedua kalinya.

Tentangmu bukan lagi cinta

Tapi seperti berhutang jiwa di kehidupan sebelumnya,

andai itu ada


Sebab bila hanya rindu takkan sesakit ini

membawa berat namamu dalam hari-hari.

Entah apa yang ada dalam dada,

Tapi cinta selalu tulus menyebutmu

Yang selalu kuminta dalam doa setelah shalat ku


Mungkin bukan lagi rindu

Tapi aku takut kembali kehilanganmu


***



ATAU HANYA AKU


Kau ada di mana?

Dalam gulita, wajahmu terlintas

akankah senyum itu kulihat lagi?

Benarkah dalam hati kita ada rindu,

atau itu hanya aku?

Tersiksa sendiri,

Menebak-nebak isi hati


Adakah cinta di buku kita,

atau kisahnya telah habis di ujung tatap yang kemarin?

Bayangmu pun tak tampak lagi,

Hanya bias kenangan

Saat ku bercermin


Kau ada di mana?

Apa kau bertanya juga tentang kita?

Sebab aku tak mau rindu sendiri

Dan bila berakhir,

Semoga namamu larut tak kuingat lagi


Dan bila sudah…

Semoga bayangmu lepas biar aku lupa

Namun, bila ada lembar terlewat

Biar lagi ku isi tentang apa yang kita dapat.

Tentang aku, kamu, dan isi hati ini

yang sama kita amini

Bukan hanya aku yang rindu sendiri


Kau ada di mana? 

Aku kangen sekali


***



BAB IV: TITIK TEDUH


SATU PELUKAN LAGI


Hari itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Matahari yang mulai meredup di ufuk barat seolah mengerti bahwa waktu untuk berpamitan telah tiba. Nefa tiba di depan rumah penginapan Chapunk dengan motornya. Begitu Chapunk keluar dan menaiki boncengan, keheningan menyelimuti mereka sepanjang perjalanan menuju sebuah kafe di sudut kota Lembang 


Sesampainya di sana, mereka memilih meja di pojok yang tenang. Aroma kopi yang tersaji di meja seakan tidak mampu mengusir ketegangan yang menyelinap di antara percakapan mereka.


"Aku sudah memutuskan, fa," ucap Chapunk memecah keheningan, suaranya pelan namun mantap. 


"Besok, aku berangkat ke Banda Aceh. Aku mau menemui Lira, aku kangen padanya."


Nefa terdiam sejenak. Ia menatap wajah Chapunk, mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang kuat. Nefa tahu kalau Capunk juga sangat mencintai Lira


"Sejauh itu?" tanya Nefa lirih.


"Jauh sekali lah, ahh udah ga sabar " jawab Chapunk sambil tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. 


"Tapi aku harus pergi. Makasih ya udah nemenin aku selama ini." Ujar capunk


Nefa hanya diam menunduk memainkan ponselnya, tak berkata apa-apa lagi. Seperti biasanya isi hati Nefa selalu rahasia 


Sisa waktu di kafe mereka habiskan dengan perbincangan ringan tentang masa depan, seolah-olah mereka berusaha menimbun kenangan sebanyak mungkin sebelum jarak memisahkan. Hingga akhirnya, ketika lampu jalan mulai menyala, Nefa mengantarkan Chapunk kembali ke depan penginapan.

Motor berhenti setelah memasuki gerbang. Chapunk turun, namun ia tak langsung melangkah masuk. Mereka berdiri berhadapan untuk beberapa saat, dalam suasana sore yang seakan mau juga ikut pergi


"Besok subuh aku harus ke bandara, kamu disini baik-baik nyak " ujar Chapunk.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Nefa maju selangkah. Ia memeluk Chapunk


Pelukan itu terasa hangat, sebuah upaya untuk menyimpan sisa keberadaan satu sama lain sebelum hari esok yang tidak pasti. Chapunk membalas pelukan itu dengan erat, menitipkan rasa terima kasih yang tak sempat terucap lewat kata-kata.


"Jaga diri baik-baik di sana, jangan merokok terus" bisik Nefa tepat di telinga Chapunk.


"Kamu juga, ya," jawab Chapunk singkat.

Mereka melepas pelukan itu perlahan, diakhiri kecupan kecil di bibir yang terakhir.


Setelah memastikan Nefa benar-benar pergi, Chapunk berbalik memasuki Rumah, membawa sisa hangat pelukan itu masuk ke dalam kamarnya, bersiap menghadapi hari esok yang akan mengubah segalanya.


“Nefa … Lira … Aku akan baik-baik saja” Chapunk bicara sendiri dalam hati menguatkan diri, berbaring di kamar apek nya, menutup mukanya dengan bantal, resah menunggu malam nanti ia akan pergi


***





TENANG


dan malam ini …

kuminta sedikit saja hilang tentang itu

Bukankah mentari pun beristirahat

Bukankah udara pun sekian senyap.

Setelah kencang ia menari

Tak bisakah aku pasrah pada hari-hari

Sebab yg kulewati, aku tak sanggup memulainya lagi


Harapku kian tenang,

dari berisiknya tanya dalam dada.

Bualan surga tak pernah kukunjungi

Sementara detak hampir habis,

Semua orang telah jauh dalam nyata.

Sementara aku masih bodoh memimpikannya


dan malam ini ... Izinkan aku rebah dalam kosong

ku tutup mata biar tak lagi kulihat warna-warna

dan tentang esok, biar detik yg mencatat kannya


Rebahku ingin diam, Baringku ingin tenang.

Jemari langit mulai bosan kuratapi

Sebab esok aku ingin ada

Esok aku ingin nyata

esok aku ingin merasainya

esok aku ingin bahagia


***



BERPISAH


Aku ingin selalu bertemu denganmu

lagi ... Dan sekali lagi,

Walau kutahu tak ada pagi yang selamanya.

Seperti mentari yang harus terbenam,

dan malam nanti akan terasa lama

bila diisi rindu,

Tentang mimpi-mimpi bodohku


Karena aku selalu percaya

Bila tentang takdir cinta

ia akan menemukan jalannya.

Sejauh apa pun ditempuh, sekeras apa pun diarungi,

dia akan mempertemukannya lagi.


Aku ingin selalu bertemu denganmu

lagi ... dan berkali-kali lagi

biar tak berharap rinduku kan terwujud.

Namun aku selalu percaya

Tuhan tak pernah salah menjatuhkan rasa cinta.


Dan aku takut,

seperti gemetarnya embun di daun kala berjumpa panas mentari

yang hanya jadi cerita ... sahabat pagimu,

dan aku menguap tak ada,

menjelang senja 


Aku ingin selalu bertemu denganmu

lagi ... iya ... sekali lagi saja

Kadang sulit terbayang berpisah denganmu nanti,

dan mengapa matahari harus pergi di hari seindah ini?


***




BERITAKAN PADAMU



Sayang... Kapankah aku akan menyebutmu?

Andai saja kau tahu perasaan ini

dan kepada siapa kuminta untuk beritakan rahasia hati.

Sebab malam pun tak peduli,

Ia hanya diam saja.


Berkali-kali kucuri memandang mu dari celah jendela

Gemetar rasanya, Selayak jatuh cinta saat pertama.

andai bisa ku bisikan tentang biru ini,

tentang perasaan

dan cukup aku berdoa, semoga saja engkau juga merasakan


Sayang... Harap dan hasratku seperti tak bisa jauh lagi,

hanya berat kutahan di dada sendiri.

Berharap Allah melepaskannya lagi,

atau beritakan ini padamu

agar kau tahu tentang aku

Laki-laki yang mencintaimu.


***





TAK SIAP



Bagaimana caranya,

katakan padamu kalau aku suka?

Sementara bidukku kecil untuk kau tumpangi

dan kemudiku masih goyah

Bilakah bisa hantarkan mu sampai

ke tempat mana yang kau mau


Apa kau tahu malamku yang menyiksa?

Angin yang penuh rindu

dan butir gerimis di mataku.

Makin jelas wajahmu saat aku memejamkannya.

Takut kau jauh... Takut aku jatuh

dan aku belum siap untuk kau benci,

Saat kau tahu perasaan ini


Bagaimana caranya,

Terisi celah hatiku yang hampa dan kosong?

Aku terlalu takut mencintaimu.

Takut kau jauh... Takut aku jatuh.

dan aku tak siap untuk kau benci,

Saat kau tahu perasaan ini.


***




HILANG SAJA


Kulepas kau pergi, namun kau mengikatku lebih erat lagi.

Bukankah senja kita sudah lewat?

Pagi kita habis di sekian musim-musim

Cukuplah gerimis hapuskan jejaknya

Tak perlu lagi bayangmu hadir, 

tampak di genangannya.


Kulepas kau pergi,

Namun nyatanya kau mengembara di hatiku lebih dalam lagi

Dan sungguh aku tak pernah ingin kau ada

Harapku kau hilang, kau hilang... Hilang saja


Kulepas kau jauh

Namun selalu di wajahmu lamunan ini berlabuh

Layaknya angin yang tak rela gugurkan daun jatuh,

Dan rupanya aku tak setangguh yang kukira.

Aku rapuh... aku begitu rapuh... aku tak bisa


Karena seribu puisi takkan mampu melukiskanmu,

Sebab kaulah keindahan tak terperi

Yang membawaku dalam impian muram,

Dan harapan tanpa harapan.


***




HABIS


Dari pertama ... 

Semenjak kau seret aku pada hening

Hampir saja kosong apa yang terlantun di dadaku

Tapi untung di mata bisa tertumpah

Maka biar tercurah habis

Semua tentang engkau, semua tentang adamu

Yang kini kerontang tak tersisa


Dari pertama…

Semenjak ada ku tersia di dada kau

Maka putri tak lagi jadi Ratu.

Tak mau lagi kusempat bersyair tentangmu

Sebab dada terbakar habis

Saat tak siap kuterima panas perasaan

Dan kau paksa aku merasakan


Lucu rasanya kini kau datang

Seret awan hitam di wajahmu yang tampak kusam.

Bukankah dulu itu yang kau cari?

Dunia telah menua,

Dan kau masih sendiri.


Dari pertama... 

Kubilang, bibit hasrat takkan lama

Keabadian hanya ada dalam kesabaran.

Tapi kau bertaruh demi mimpi-mimpi


Lihat, Sayang... 

Dunia telah menua

Dan kau kini lusuh meminta


***




PENUTUP

Perjalanan ini berakhir di titik teduh, di mana segala tanya akhirnya menemukan jawabannya dalam keheningan. Menulis buku ini adalah cara saya berdamai dengan masa lalu dan merayakan setiap perasaan yang pernah ada. Terima kasih telah menemani langkah saya menelusuri roda yang terus berputar ini. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Rode Roos

RODE ROOS Agung Saripudin KATA PENGANTAR Buku ini adalah kumpulan fragmen perasaan yang disatukan oleh waktu. "Rode Roos" bukan se...